Konsumsi Cokelat Di Indonesia Masih Rendah

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/'></a>
LAPORAN:
  • Senin, 10 April 2017, 17:13 WIB
Konsumsi Cokelat Di Indonesia Masih Rendah
Net
rmol news logo Indonesia merupakan salah satu produsen cokelat terbesar di dunia dengan posisi nomor tiga setelah Pantai Gading dan Ghana. Anehnya, meski masuk dalam tiga besar, konsumsi cokelat di Indonesia justru paling kecil, bahkan jauh di bawah Malaysia.

"Masyarakat Indonesia mengkonsumsi cokelat dalam hitungan gram per orang per tahun. Sedangkan Malaysia per kilogram per orang per tahun," jelas Creative and Corporate Communications Manager PT Gandum Mas Kencana (GMK) Iman Setia Nugraha di sela pameran Food and Hotel Indonesia 2017 di JIExpo Kemayoran, Jakarta (10/4).

Menurutnya, kurangnya konsumsi cokelat di Indonesia karena dianggap bahwa cemilan itu tergolong mahal. Berbeda dengan Eropa, di mana pemakan cokelat sangat banyak. Kondisi itu menjadi tantangan bagi produsen cokelat Indonesia untuk menaklukkan hati konsumen dalam negeri. Mengingat, pangsa pasarnya sangat besar dengan jumlah penduduk 250 juta lebih.

Iman mengungkapkan, kualitas cokelat Indonesia memiliki keunggulan tersendiri karena penyebaran kakao di Nusantara memiliki ciri khas masing-masing. Buah kakao asli Indonesia merupakan asal muasal terbentuknya berbagai macam olahan cokelat berkualitas, salah satunya Collata Compound and Counvere Series.

"Mengolah biji kakao menjadi cokelat dibutuhkan pengalaman yang memadai agar hasilnya berkualitas dan memiliki nilai jual untuk dipasarkan menjadi produk premium berskala dunia. Sampai saat ini cokelat produksi kami sudah tembus ke pasar Asia, Afrika hingga Eropa," terang Iman.

Untuk menarik minat masyarakat terhadap cokelat, PT GMK juga menggelar ajang kompetisi choco master pertama di Indonesia. Ada 16 peserta berbakat yang masuk babak semifinal. Mereka dinilai oleh juri yang kompeten di bidangnya, diantaranya Chef Gerald Maridet (Pullman Thamrin Hotel Jakarta), Chef Patrick Siau (Head Culinary Sunway University Kuala Lumpur), Susanna Solichin (Presdir GMK), Fatmah Bahalwan (pimpinan Natural Cooking Club Jakarta, Lanny Soechan (pimpinan Merio Baking Course), dan Petrus Gandamana (pimred Bareca Magazine).

"Kompetisi ini tidak hanya untuk menemukan choco master terbaik Indonesia tapi juga mengangkat bahan dasar cokelat asli Indonesia. Alhamdulillah banyak peminat kompetisi. Pengunjung pameran juga antusias melihat aksi peserta dari berbagai latar belakang," pungkas Iman. [wah]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA