Terkait hal itu, Earthquake Prediction Research Centre Japan (EPRC) telah mengembangkan teknologi yang memungkinkan kita memprediksi gempa dan tsunami sebagai bencana susulan. Hal ini mendorong Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) berkepentingan untuk menerapkan teknologi tersebut sebagai upaya peringatan dini.
"Teknologi yang dimaksud adalah gabungan teknologi canggih seperti satelit, radar, GPS sensor dan peralatan pendukung lain seperti pendeteksi gelombang elektromagnetik. Di samping itu, dukungan teknologi ini tentu disertai beragam data seperti tinggi muka air," jelas Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho, dalam kepada redaksi, Sabtu (8/4).
Dia menjelaskan, nantinya, data yang digunakan berasal dari satelit milik Amerika Serikat, Rusia, Jerman, dan Jepang. Beragam data kemudian diolah dan dianalisis dengan supercomputer artificial intelligence. Adapula harapan dari pengembangan teknologi ter5sebut, yaitu terwujudnya International Surface Artificial intelligence Communicator (ISACO). Nantinya, setiap orang yang berada di wilayah rawan bencana akan mendapatkan informasi potensi ancaman gempa.
"Email peringatan dini dapat diakses melalui smartphone yang memberitahukan satu hari jelang gempa berkekuatan lima atau lebih terjadi. Namun demikian, pengetahuan risiko dan kesigapan untuk melakukan evakuasi ke tempat yang lebih tinggi juga sangat penting dipahami oleh setiap individu," kata Sutopo.
Analisis dari teknologi yang digunakan menunjukkan hasil mencengangkan. Di mana, presentase akurasi dalam kurun waktu tiga tahun taau 1 Februari 2013-31 Januari 2016 menunjukkan nilai tinggi. Gempa dengan kekuatan magnitude 6 terjadi 38 kali dan terdeteksi sebelum gempa terjadi sebanyak 31 kali atau akurasi mencapai 82 persen. Gempa dengan magnitude 5-5,9, nilai akurasi sebesar 77 persen.
Menurut Sutopo, pihak EPRC tidak akan membebankan biaya kepada pemerintah apabila teknologi tersebut diterapkan di Indonesia. Karena EPRC memiliki tujuan menganalisis data besar dan menggunakan teknologi untuk meminimalkan dampak gempa bumi, dan berkontribusi untuk menyelamatkan lebih banyak umat manusia di dunia.
EPRC juga berkeinginan untuk membantu Indonesia karena memiliki karakteristik gempa bumi, di mana berada dekat dengan lempeng tektonik. Saat ini, lebih dari 184 juta masyarakat Indonesia terpapar potensi gempa bumi pada kategori sedang hingga tinggi.
"Untuk penjajakan pengembangan teknologi prediksi gempa tersebut BNPB akan bekerja sama dengan BMKG, BIG, BPPT, perguruan tinggi dan institusi lainnya," imbuhnya.
[wah]
BERITA TERKAIT: