Pasalnya, jalur utama Jalan RM Harsono di depan gedung Auditorium D, Kementerian Pertanian (Kementan) diblokade total oleh petugas kepolisian dan pagar kawat.
"Gimana sih, Pak. Tadi ada yang boleh lewat. Kok saya nggak boleh," protes pria berkopiah hitam berkalung kain sarung motif kotak hijau itu.
Meski telah memasuki area Buperta, pria tersebut akhirnya digiring aparat Satuan Brigade Mobil (Brimob) Polda Metro Jaya (PMJ) keluar gerbang.
Beberapa meter sebelah kanan dari gerbang Buperta, terdapat portal menuju sebuah gang ke pemukiman warga.
Dari area itu, pria yang tidak diketahui identitasnya tersebut melompati pagar setinggi dua meter, pemisah antara pemukiman warga dengan Buperta.
"Tadi sih, bapak itu sudah dilarang lewat gerbang (Buperta). Tahu-tahu dia lompat pagar pembatas, tapi ketahuan. Akhirnya ditangkap," tutur salah satu saksi, Edi.
Seperti diketahui, kedua massa pro dan kontra Ahok dipisah kawat berduri sebagai langkah preventif terjadinya kericuhan.
Seratus meter dari persimpangan Kementan, terdapat massa pro Ahok yang berunjuk rasa. Mereka tergabung dari kelompok Barisan Relawan Basuki Djarot (Bara Badja) dan komunitas lainnya.
Di depan berjarak sekitar 500 meter, terdapat massa kontra Ahok yang yang tergabung dalam Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) MUI gabungan komunitas lainnya.
Bagian tengah antara kedua kubu massa pro dan kontra Ahok itu, ratusan petugas kepolisian gabungan bersiaga dengan atribut lengkap. Rompi anti peluru, tameng, tongkat rotan dan karet, hingga gas air mata. Juga tampak alutsista jenis barracuda dan watercanon yang disiagakan tepat di depan gerbang utama Auditorium D.
Secara otomatis, jalur utama sepanjang Jalan utama RM Harsono ditutup total selama sidang perkara penodaan agama terdakwa Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) berlangsung
.[wid]