Banyak pengguna internet terutama di platform X menuduh video tersebut kemungkinan dibuat atau dimodifikasi menggunakan kecerdasan buatan (AI).
Spekulasi bermula ketika sejumlah pengguna media sosial meneliti pidato video Netanyahu secara sangat detail. Mereka menemukan satu frame gambar yang memperlihatkan tangan Netanyahu tampak aneh saat berada di dekat mikrofon.
Beberapa orang mengklaim bahwa gambar tersebut memperlihatkan enam jari, bukan lima seperti biasanya. Hal ini sering dianggap sebagai salah satu ciri khas gambar yang dihasilkan AI, karena teknologi generatif sebelumnya kerap mengalami kesulitan membuat bentuk tangan manusia secara akurat.
Tak lama kemudian, potongan gambar yang diperbesar serta video yang diperlambat mulai beredar luas. Banyak unggahan menambahkan tanda panah dan keterangan seperti “lihat tangan ini” atau “ini glitch khas AI”.
Dalam hitungan jam, unggahan tersebut menyebar dengan cepat dan ditonton jutaan kali. Berbagai teori bermunculan di internet.
Sebagian pengguna menduga video itu adalah rekaman propaganda digital yang sengaja dibuat untuk menyampaikan pesan pemerintah tanpa kehadiran langsung Netanyahu.
Ada juga unggahan yang mempertanyakan keberadaan Netanyahu secara langsung. Salah satu pengguna menulis:
“Video terbaru pemerintah Israel terlihat dihasilkan AI karena Netanyahu punya 6 jari. Apakah Netanyahu sudah meninggal?”
Namun hingga kini, tidak ada bukti yang memastikan bahwa video tersebut benar-benar dibuat menggunakan AI.
Kontroversi video Netanyahu terjadi di tengah situasi geopolitik yang sangat tegang di Timur Tengah. Konflik antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat memicu banjir konten perang di media sosial.
Berbagai video serangan misil, foto medan perang, hingga gambar satelit beredar luas setiap hari. Namun banyak di antaranya ternyata menyesatkan, lama, atau sudah dimodifikasi secara digital.
Fenomena lain yang muncul adalah tren analisis video oleh warganet. Banyak pengguna dunia maya kini mencoba membongkar keaslian video viral sendiri, tanpa menunggu investigasi jurnalis atau ahli. Dalam kasus video Netanyahu, beberapa pengguna memperlambat video frame demi frame, memperbesar gambar, hingga menggunakan alat AI untuk memeriksa kemungkinan manipulasi.
Praktik ini sering disebut sebagai “citizen forensics”. Meski kadang berhasil menemukan manipulasi nyata, metode ini juga kerap memicu kesalahpahaman karena artefak teknis dianggap sebagai bukti rekayasa.
Tangan manusia memang sering menjadi fokus ketika orang mencoba mendeteksi gambar AI. Pada generasi awal teknologi AI, sistem sering menghasilkan tangan dengan bentuk aneh, jari berlebih, atau jari yang menyatu. Karena itu, di internet muncul lelucon populer: “Kalau ragu, hitung saja jarinya.”
Ketika screenshot dari video Netanyahu terlihat memiliki bentuk tangan yang tidak biasa, reaksi netizen pun langsung meledak. Terlepas dari benar atau tidaknya tuduhan tersebut, kontroversi ini menunjukkan perubahan besar dalam cara masyarakat memandang informasi.
Selama puluhan tahun, video dianggap sebagai bukti paling kuat. Namun di era AI generatif, kepercayaan terhadap gambar dan video mulai menurun. Kini, setiap rekaman, terutama yang melibatkan pemimpin dunia seperti Netanyahu, bisa langsung diperiksa dan diperdebatkan oleh jutaan orang di internet.
BERITA TERKAIT: