Perpanjangan sanksi diumumkan oleh Departemen Keuangan AS dalam sebuah pernyataan yang dirilis di situs resminya pada Rabu (24/11) waktu setempat.
"Semua transaksi dan aktivitas yang dilarang oleh Perintah Eksekutif 13850, terkait menyelesaikan operasi, kontrak, atau perjanjian lain di Venezuela yang melibatkan PDVSA atau entitas mana pun yang dimiliki PDVSA, secara langsung atau tidak langsung, yang terpengaruh pada 26 Juli 2019, diperpanjang hingga 1 Juni 2022," kata Departemen Keuangan AS.
Dengan aturan baru, Departemen Keuangan memperpanjang lisensi bagi sejumlah perusahaan minyak AS untuk beroperasi di Venezuela dan bertransaksi dengan PDVSA untuk keperluan pemeliharaan dan penghentian operasi.
Perusahaan-perusahaan tersebut adalah Chevron Corporation, Halliburton, Schlumberger Limited, Baker Hughes Holdings LLC, dan Weatherford International Public Limited Company.
Pemerintah Venezuela telah berulang kali mengecam sanksi yang dijatuhkan oleh AS dan sekutunya. Sanksi yang menargetkan PDVSA sendiri telah berlaku sejak 2017. Akibat dari sanksi, pendapatan Venezuela anjlok hingga 99 persen.
Pada Juni 2021, Departemen Keuangan AS telah memperpanjang sanksi serupa selama enam bulan. Sanksi tersebut menargetkan entitas yang tunduk pada sanksi AS untuk tidak melakukan transaksi dengan PDVSA.
Para analis menilai, dengan kelangkaan bahan bakar dan kenaikan bahan bakar minyak, sanksi AS dirancang untuk merangsang produksi. Dengan begitu, jumlah minyak mentah yang tersedia di pasaran meningkat dan harga turun.
BERITA TERKAIT: