Begitu peringatan yang disampaikan oleh mantan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Hillary Clinton, sekaligus mantan calon presiden dari Partai Demokrat.
Berbicara dalam Forum Ekonomi Baru Bloomberg di Singapura yang digelar secara virtual pada Jumat (19/11), Clinton membidik Presiden Rusia Vladimir Putin.
"Dia memiliki pasukan tentara bayaran yang sangat besar yang telah beroperasi di mana-mana dari Suriah ke Republik Afrika Tengah," ujar Clinton, seperti dikutip
WAToday.
Clinton mengatakan, Putin memiliki banyak peretas yang terlibat dalam penyebaran disinformasi dan perang dunia maya, baik di dalam maupun di luar pemerintahan. Ia juga terlibat dalam banyak gerakan kekuatan asimetris.
"Dengan lingkungan oligarkinya, ia (Putin) telah memanfaatkan banyak aktor non-negara untuk mengejar tujuan pribadi maupun nasionalistik. Dan saya pikir itu akan menjadi ancaman yang semakin besar," ujarnya.
Clinton dinilai cukup mengkritisi Rusia dan Putin, khususnya setelah ia kalah dalam pilpres AS pada 2016 oleh Donald Trump. Kemenangan Trump sendiri dinilai sebagai bagian dari campur tangan Rusia dalam pemilihan.
Terkait dengan China, Clinton menyoroti upaya pemerintahan Presiden Joe Biden untuk mengembalikan tarif impor yang dikenakan oleh Trump.
"Tentu saja kita harus bekerja sama dalam berbagai masalah. Tetapi kami juga tidak dapat mengizinkan jenis pembangunan militer yang agresif, jenis upaya untuk mendominasi navigasi maritim, intimidasi negara-negara di kawasan Asia-Pasifik yang lebih luas," pungkasnya.
BERITA TERKAIT: