Sejak Kamis pagi (18/11), warga yang telah memiliki hak pilih menggegaskan langkahnya ke kotak suara dengan harapan yang sangat tipis bahwa krisis kesehatan dan korupsi yang mendominasi pemerintahan bisa segera diberantas.
Tidak ada kampanye besar untuk pemilihan tahun ini karena adanya pembatasan Covid yang telah diberlakukan sejak awal bulan. Tonga telah mencatat kasus pertamanya yang muncul dari seorang pelancong yang dites positif saat ia datang ke pulau itu dari Selandia Baru.
Kasus pertama itu akhirnya menghapus 'prestasi' Tonga sebagai negara terakhir yang bebas Covid, sekaligus menjadi agenda utama para pemilih di kerajaan Pasifik Selatan yang kecil itu.
Sekitar 60.000 rakyat Tonga akan memilih 17 Perwakilan Rakyat dalam pemilihan 18 November, dari total 73 calon. 12 di antaranya adalah perempuan.
Lebih dari separuh kandidat, termasuk tujuh perempuan, memperebutkan 10 kursi di Tongatapu, seperti dilaporkan
Devpolicy. Negara berpenduduk 106.000 jiwa itu berada di bawah pemerintahan feodal hingga 2010, ketika monarki meningkatkan perwakilan demokratis setelah kerusuhan empat tahun sebelumnya yang menghancurkan pusat kota ibu kota Nuku'alofa.
Tetapi serangkaian skandal politik dan persepsi tentang ketidakmampuan pemerintah telah mengikis kepercayaan pada lembaga-lembaga demokrasi yang masih muda.
Sebuah survei yang dirilis oleh pengawas Transparency International minggu ini menemukan 62 persen responden menganggap korupsi adalah masalah utama negara itu, dengan hampir 50 persen mengatakan memiliki pengalaman langsung soal penyuapan yang melibatkan pejabat pemerintah.
BERITA TERKAIT: