Fasilitas pembuatan vaksin yang dijalankan oleh Emergent BioSolutions di Baltimore pada awal bulan ini mengungkap sebanyak 15 juta dosis vaksin J&J terbuang karena pekerja tidak sengaja mencampurkannya dengan bahan-bahan vaksin AstraZeneca.
Insiden tersebut membuat distribusi vaksin di AS terhambat. Lantaran vaksin J&J yang diproduksi di Baltimore merupakan bagian dari 24 juta dosis yang akan didistribusikan ke seluruh AS pada bulan depan. Selain menghambat distribusi vaksin J&J itu sendiri, insiden itu juga menghentikan produksi AstraZeneca.
Berdasarkan hasil penyelidikan Administrasi Obat dan Makanan (FDA), J&J dianggap bertanggung jawab.
J&J menyatakan akan memikul tanggung jawab penuh dan akan memberikan 100 juta dosis kepada pemerintah AS pada akhir Mei, seperti dikutip dari
Reuters.
Seorang pejabat pada Sabtu (3/4) mengatakan, Departemen Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan telah memfasilitasi penanganan solusi tersebut.
Sementara AstraZeneca mengatakan akan bekerja sama dengan pemerintahan Presiden Joe Biden untuk menemukan situs alternatif untuk memproduksi vaksinnya.
Hingga saat ini pihak Gedung Putih belum memberikan komentar.
Vaksin J&J dan AstraZeneca dikembangkan dengan teknologi yang sama, yaitu menggunakan versi virus yang tidak berbahaya atau vektor yang ditularkan ke dalam sel untuk membuat protein dan merangsang sistem kekebalan.
Tetapi vektor J&J dan AstraZeneca secara biologis berbeda sehingga tidak dapat ditukar atau dicampurkan.