Dalam sebuah pernyataan pada Rabu (16/12), BioNTech menyebut akan mengirim pasokan awal vaksinnya yang diproduksi di Jerman dan akan digunakan di China pada tahun depan.
Dimuat
Reuters, pemerintah China sendiri belum mengumumkan kesepakatan apa pun dengan pembuat obat dari negara-negara Barat.
Fosun mengatakan, pihaknya melakukan pembayaran di muka untuk 50 juta dosis vaksin BioNTech sebesar 250 juta euro pada 30 Desember. Sementara sisanya akan diberikan setelah regulasi disetujui.
Kerja sama antara BioNTech dan Fosun dimulai pada Maret 2020. Kemudian pada 24 November, perusahaan mengumumkan dimulainya uji coba fase 2 di China.
"Upaya pengembangan bersama dengan Fosun Pharma ini merupakan bukti pentingnya kerja sama global dan mencerminkan strategi kami untuk memasok vaksin kepada kami secara global," ujar CEO BioNTech, Ugur Sahin.
Vaksin yang dikembangkan oleh BioNTech dengan Pfizer dari Amerika Serikat (AS) telah diberikan izin penggunaan di Inggris dan AS.
Sementara itu, China juga sudah memberikan izin penggunaan darurat untuk dua kandidat vaksin dari Sinopharm dan Sinovac yang dibuat secara lokal.