Peningkatan terjadi terutama karena Beijing terus memenuhi komitmennya di bawah perjanjian perdagangan fase satu dan lonjakan permintaan domestik.
Namun, para analis juga mengingatkan, itu semua hanya akan terwujud jika AS bisa memastikan pasokan yang stabil dan menghilangkan sejumlah rintangan yang akan mempersulit kerjasama kedua negara.
Bloomberg telah melaporkan pada Selasa (8/12) bahwa para pembeli China telah mulai membeli produk pertanian AS dari tanaman tahun depan, termasuk kedelai dan jagung, jauh lebih awal dari biasanya, meskipun jumlahnya kurang dari lima kargo.
Namun, Zhang Xiaoping, direktur negara untuk China di Dewan Ekspor Kedelai AS, mengatakan bahwa tidak ada pembelian awal kedelai yang akan dikirim pada musim gugur 2021.
"Tetapi ada hampir 10 juta ton yang akan dikirim sebelumnya. Agustus mendatang menunggu untuk dieksekusi," kata Zhang, seraya menambahkan bahwa pembelian kedelai AS diperkirakan melebihi pembelian tahun ini, mengingat lonjakan permintaan dan implementasi kesepakatan fase satu, seperti dikutip dari
GT, Rabu (9/12).
"Permintaan pasar mungkin menjadi faktor, tetapi faktor utama adalah implementasi lanjutan dari perjanjian perdagangan fase satu," kata Li Guoxiang, seorang peneliti dari Institut Pembangunan Pedesaan dari Akademi Ilmu Sosial China.
"Dalam jangka menengah dan panjang, China akan terus bergantung pada impor untuk beberapa produk pertanian, seperti kedelai," kata Li.
BERITA TERKAIT: