Hingga saat ini, model iklim telah meramalkan peningkatan suhu Arktik yang lambat dan stabil. Namun, studi baru menunjukkan bahwa pemanasan terjadi dengan kecepatan yang lebih.
"Kami jelas meremehkan laju kenaikan suhu di atmosfer yang paling dekat dengan permukaan laut, yang pada akhirnya menyebabkan es laut menghilang lebih cepat dari yang kami perkirakan," kata Jens Hesselbjerg Christensen, seorang profesor Universitas Kopenhagen dan salah satu peneliti yang terlibat dalam penelitian, seperti dikutip dari
AFP, Selasa (18/8).
Temuan mereka yang diterbitkan dalam jurnal Nature pada akhir Juli lalu menunjukkan suhu tinggi yang tidak biasa yang terlihat di Samudra Arktik hanya diamati selama zaman es sebelumnya.
Analisis inti es telah mengungkapkan bahwa suhu di atas lapisan es Greenland meningkat beberapa kali selama waktu itu, antara 10 hingga 12 derajat, selama 40 hingga 100 tahun.
"Perubahan terjadi begitu cepat selama bulan-bulan musim panas sehingga es laut kemungkinan besar akan menghilang lebih cepat daripada kebanyakan model iklim yang pernah diprediksi," kata Hesselbjerg Christensen.
Pada Juni 2019, foto pencairan es awal di Greenland barat laut menjadi berita utama di seluruh dunia.
Foto itu menunjukkan anjing kereta luncur berjuang melalui lima atau enam sentimeter air leleh yang menggenang di atas es. Dengan latar belakang gunung tanpa salju, anjing-anjing itu tampak berjalan di atas air.
Sebuah studi baru-baru ini dari Universitas Lincoln di Inggris menyimpulkan bahwa pencairan es di Greenland saja diperkirakan berkontribusi 10-12 sentimeter pada kenaikan permukaan laut dunia pada tahun 2100.
Baru-baru ini sekelompok penelitian menyimpulkan bahwa mencairnya lapisan es di Greenland telah sedemikian jauh sehingga sekarang tidak dapat diubah, bahkan hujan salju tidak lagi dapat mengkompensasi hilangnya es meskipun misalnya pemanasan global akan berakhir hari ini.