Aturan baru tersebut diumumkan oleh aplikasi milik ByteDance China tersebut pada Rabu (5/8), melansir
Sputnik.
“Orang-orang di aplikasi kami menghargai konten autentik, dan kami juga melakukannya. Itulah sebabnya tim kami bekerja dengan rajin untuk menegakkan Pedoman Komunitas dan menjaga konten dari akun yang menyesatkan, berbahaya, atau menipu di luar TikTok," ujar Manajer Umum TikTok di AS, Vanessa Pappas.
Pappas mengatakan, ada beberapa langkah baru yang dilakukan oleh TikTok untuk memerangi misinformasi, disinformasi, dan konten menyesatkan lainnya yang mungkin dirancang untuk mengganggu pemilu 2020.
Kata Pappas, TikTok akan memperbarui kebijakannya untuk memberi pengguna kejelasan yang lebih besar tentang apa yang diizinkan di platform.
Selain itu, TikTok juga akan memperluas kemitraan pengecekan fakta dan bekerja dengan para ahli dari Departemen Keamanan Dalam Negeri AS untuk melindungi dari campur tangan asing.
Bukan hanya di AS, layanan pengecekan fakta baru pun akan diluncurkan di beberapa negara untuk memerangi penyebaran disinformasi.
Beberapa waktu terakhir, Presiden AS Donald Trump tengah menargetkan TikTok atas kepemilikan China yang dianggapnya berbahaya. Menteri Luar Negeri Mike Pompeo bahkan menyebut TikTok memberikan data penggunanya pada Partai Komunis China.
Pada Senin (3/8), Trump mengatakan telah menetapkan batas waktu 15 September sebagai tenggat waktu bagi TikTok untuk dibeli perusahaan AS. Jika tidak, Trump berjanji untuk melarang penggunaan aplikasi tersebut.
BERITA TERKAIT: