Jadi Kontroversi, TikTok Terapkan Sejumlah Langkah Perangi Informasi Menyesatkan Jelang Pilpres AS

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/sarah-meiliana-gunawan-1'>SARAH MEILIANA GUNAWAN</a>
LAPORAN: SARAH MEILIANA GUNAWAN
  • Kamis, 06 Agustus 2020, 11:33 WIB
Jadi Kontroversi, TikTok Terapkan Sejumlah Langkah Perangi Informasi Menyesatkan Jelang Pilpres AS
Logo TikTok dan Bendera Amerika Serikat/Net
rmol news logo Aplikasi video pendek populer, TikTok, mengumumkan serangkaian langkah baru untuk mengatasi arus informasi palsu menjelang pemilihan presiden Amerika Serikat (AS) pada November 2020.

Aturan baru tersebut diumumkan oleh aplikasi milik ByteDance China tersebut pada Rabu (5/8), melansir Sputnik.

“Orang-orang di aplikasi kami menghargai konten autentik, dan kami juga melakukannya. Itulah sebabnya tim kami bekerja dengan rajin untuk menegakkan Pedoman Komunitas dan menjaga konten dari akun yang menyesatkan, berbahaya, atau menipu di luar TikTok," ujar Manajer Umum TikTok di AS, Vanessa Pappas.

Pappas mengatakan, ada beberapa langkah baru yang dilakukan oleh TikTok untuk memerangi misinformasi, disinformasi, dan konten menyesatkan lainnya yang mungkin dirancang untuk mengganggu pemilu 2020.

Kata Pappas, TikTok akan memperbarui kebijakannya untuk memberi pengguna kejelasan yang lebih besar tentang apa yang diizinkan di platform.

Selain itu, TikTok juga akan memperluas kemitraan pengecekan fakta dan bekerja dengan para ahli dari Departemen Keamanan Dalam Negeri AS untuk melindungi dari campur tangan asing.

Bukan hanya di AS, layanan pengecekan fakta baru pun akan diluncurkan di beberapa negara untuk memerangi penyebaran disinformasi.

Beberapa waktu terakhir, Presiden AS Donald Trump tengah menargetkan TikTok atas kepemilikan China yang dianggapnya berbahaya. Menteri Luar Negeri Mike Pompeo bahkan menyebut TikTok memberikan data penggunanya pada Partai Komunis China.

Pada Senin (3/8), Trump mengatakan telah menetapkan batas waktu 15 September sebagai tenggat waktu bagi TikTok untuk dibeli perusahaan AS. Jika tidak, Trump berjanji untuk melarang penggunaan aplikasi tersebut. rmol news logo article

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA