Dipimpin oleh Paus Fransiskus, gereja yang biasanya dipenuhi oleh sekitar 10 ribu orang tersebut hanya dihadiri oleh dua lusin, termasuk beberapa pelayan alter dan paduan suara yang lebih sedikit dari biasanya.
Sabtu malam (11/4), perayaan Misa Paskah kali ini begitu sepi dan tidak diisi dengan upacara tradisional seperti pembaptisan.
Di sana, Paus mendesak agar umat manusia tidak menyerah pada rasa takut dan berfokus pada pesan harapan.
Sesuai dengan peringatan Paskah, Paus menjelaskan kisal Injil tentang para wanita yang menemukan kuburan Yesus kosong, di mana ia diyakini bangkit dari kematian.
“Lalu juga, ada ketakutan tentang masa depan dan semua yang perlu dibangun kembali. Kenangan yang menyakitkan, sebuah harapan yang terpotong. Bagi mereka, juga bagi kami, itu adalah saat yang paling gelap," kata Paus.
Di negara-negara di seluruh dunia, umat Katolik juga mengikuti misa kepausan atau misa yang disampaikan oleh para imam melalui siaran televisi dan internet.
“Jangan takut, jangan menyerah pada rasa takut. Ini adalah pesan harapan. Itu ditujukan kepada kita, hari ini. Inilah kata-kata yang diulangi Tuhan kepada kami malam ini juga," lanjutnya seperti dilansir
Reuters.
“Mari kita heningkan tangisan, tidak ada lagi perang! Semoga kita menghentikan produksi dan perdagangan senjata, karena kita membutuhkan roti, bukan senjata,†ajak Paus.
Seperti halnya Misa Maskah, Paus juga akan menyampaikan "Urbi et Orbi" pada Minggu (12/4) tanpa adanya jemaah.
Misa Minggu Paskah biasanya menarik hingga 100.000 orang di Lapangan Santo Petrus. Tahun ini, akan diadakan di dalam gereja dengan jemaat simbolis kurang dari 20 orang.
BERITA TERKAIT: