Studi: Pembatasan Gerak Hingga Lockdown Harus Dipertahankan Sampai Vaksin Ditemukan, Jika Tak Ingin Melihat Gelombang Infeksi Kedua

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/sarah-meiliana-gunawan-1'>SARAH MEILIANA GUNAWAN</a>
LAPORAN: SARAH MEILIANA GUNAWAN
  • Kamis, 09 April 2020, 10:54 WIB
Studi: Pembatasan Gerak Hingga <i>Lockdown</i> Harus Dipertahankan Sampai Vaksin Ditemukan, Jika Tak Ingin Melihat Gelombang Infeksi Kedua
Jakarta/Net
rmol news logo Sebuah studi mengungkapkan, semua negara tidak bisa melonggarkan pembatasan pergerakan atau bahkan penguncian hingga vaksin untuk virus corona baru ditemukan.

Studi tersebut yang dilakukan oleh para peneliti dari Hong Kong dan telah diterbitkan di Lancet.

Menurut para peneliti, kontrol pergerakan sangat penting untuk menekan tingkat infeksi. Seperti halnya China yang melakukan kontrol agresif yang pada akhirnya bisa menghentikan infeksi gelombang pertama.

Kendati begitu, gelombang kedua infeksi di China pun masih sangat nyata untuk saat ini.

“Sementara langkah-langkah kontrol ini tampaknya telah mengurangi jumlah infeksi ke tingkat yang sangat rendah, tanpa kekebalan terhadap Covid-19, kasus-kasus dapat dengan mudah muncul kembali ketika bisnis, operasi pabrik, dan sekolah secara bertahap melanjutkan dan meningkatkan pencampuran sosial, terutama mengingat meningkatnya risiko kasus impor dari luar negeri karena Covid-19 terus menyebar secara global," ujar pemimpin penelitian tersebut, Prof Joseph T Wu dari University of Hong Kong.

China, kata Wu, telah berhasil mendorong angka reproduksi infeksi di mana jumlah rata-rata dari 2 atau 3 menjadi di bawah 1.

Tetapi, para peneliti memperingatkan, jika kehidupan normal dibiarkan berlanjut terlalu cepat dan pencabutan kontrol terlalu luas, jumlah reproduksi akan meningkat lagi yang artinya akan muncu gelombang kedua.

"Kebijakan pengendalian seperti jarak fisik dan perubahan perilaku kemungkinan harus dipertahankan untuk beberapa waktu, secara proaktif menyeimbangkan antara meringkas kegiatan ekonomi dan menjaga angka reproduksi di bawah satu," kata Wu.

"(Itu) kemungkinan menjadi strategi terbaik sampai vaksin efektif tersedia secara luas," imbuhnya seperti dimuat The Guardian.

Dalam penelitian tersebut juga dijelaskan tingkat kematian di China daratan jauh lebih rendah, kurang dari 1 persen, daripada di Provinsi Hubei di mana epidemi dimulai, yang memiliki tingkat kematian hampir 6 persen.

Angka kematian di masing-masing provinsi pun berbesa tergantung pada tingkat kemakmuran ekonomi yang juga terkait dengan kualitas layanan kesehatan.

"Bahkan di kota-kota besar yang paling makmur dan sumber daya yang baik seperti Beijing dan Shanghai, sumber daya kesehatan terbatas, dan layanan akan berjuang dengan peningkatan permintaan yang tiba-tiba," kata penulis senior Prof Gabriel M Leung dari University of Hong Kong.

“Temuan kami menyoroti pentingnya memastikan bahwa sistem perawatan kesehatan lokal memiliki staf dan sumber daya yang memadai untuk meminimalkan kematian terkait Covid-19," tambahnya.

Untuk itu, studi tersebut mengungkapkan keseimbangan kegiatan ekonomi harus dilakukan secara bertahap di mana wilayah yang memiliki sistem layanan kesehatan yang mumpuni bisa melakukannya. rmol news logo article

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA