Persoalan ini semakin kompleks dengan melibatkan sisi keagamaan. Setelah Iran menyatakan bahwa Soleimani tewas dalam jalan jihadnya, kini sebuah video muncul sebagai balasan.
Dalam akun Twitternya, seorang wartawan wanita senior Mesir, Mona Eltahawy mengunggah sebuah video yang berjudul "
Christian faith leaders pray over President Trump at lauch of the Evangelicals for Trump coalition" yang dirilis oleh NBC News.
Setelah ditelusuri, doa yang dilakukan oleh Kaum Evangelis itu dilakukan pada Jumat (3/1) atau sehari setelah insiden yang menggegerkan dunia tersebut.
Video itu juga sekaligus menjadi momen kemunculan pertama Donald Trump di depan publik setelah serangan itu.
Selain mengunggah, Eltahawy yang kerap menulis esai dan opini mengenai dunia Islam ini juga memberikan opininya mengenai video tersebut. Menurutnya, video tersebut dapat dipersepsikan sebagai bentuk deklarasi Perang Salib.
"Jika seorang presiden Muslim mendeklarasikan perang terhadap negara musuh yang secara efektif membunuh salah satu pejabat seniornya dan kemudian keesokan harinya melakukan ini, Anda akan mendengar 'Dia mendeklarasikan jihad!'. Haruskah ini (video) digambarkan sebagai deklarasi 'Perang Salib'?" tulisnya pada Minggu (5/1).
Dalam video sendiri, terlihat Presiden AS Donald Trump yang mendapatkan dukungan dari kaum Evangelis tengah didoakan oleh sorang Pastor El Rey, Guillermo Maldonado. Terlihat juga cucu dari pendiri Christianity Today, Cissie Graham Lynch yang memandunya.
Dalam doa yang dipimpin oleh Maldonado, Trump seakan-akan disamakan dengan Raja Persia yang ada dalam Injil. Pada saat Perang Salib, Raja Persia membebaskan oran-orang Yahudi dan memerintahkan untuk membangun kembali Yerrusalem.
"Kami berterimakasih bahwa negara ini telah lahir pada 1776, dan kami berharap tahun 2020 akan lahir kembali," ujar Maldonado.
"Yang dibutuhkan negara ini adalah seorang petarung dan pemenang untuk kebebasan," katanya menambahkan.
BERITA TERKAIT: