Dia adalah Walter Arizala, yang lebih dikenal dengan nama samarannya Guacho. Dia dicari atas pembunuhan dua jurnalis Ekuador dan sopir mereka awal tahun ini.
Pada hari Jumat (21/12), Presiden Kolombia Ivan Duque mengatakan bahwa Guacho telah meninggal dalam operasi di dekat perbatasan Ekuador.
Dalam sebuah pernyataan, Duque menggambarkannya sebagai salah satu penjahat paling menghebohkan yang diketahui Kolombia.
"Pesannya jelas, kami tidak akan mengambil langkah mundur dalam membela legalitas, kehidupan, kehormatan, dan properti Kolombia," kata Duque seperti dimuat
BBC.
Selain pembunuhan, Guacho juga dicurigai melakukan perdagangan narkoba dan pemerasan.
Guacho yang berusia 29 tahun itu adalah mantan anggota kelompok pemberontak Farc Kolombia. Dia adalah satu dari ribuan bekas anggota Farc yang menolak perintah untuk meletakkan senjata setelah kelompok gerilya menandatangani perjanjian damai dengan pemerintah Kolombia pada tahun 2016.
Guacho memisahkan diri dari Farc dan mendirikan Front Oliver Sinisterra, atau gerombolan pembangkang yang diperkirakan memiliki sekitar 70 hingga 80 kombatan yang beroperasi di sekitar wilayah perbatasan Kolombia-Ekuador.
Kelompok itu mendapat perhatian internasional awal tahun ini setelah menculik dua jurnalis Ekuador, yakni reporter berusia 32 tahun Javier Ortega dan fotografer berusia 45 tahun bernama Paul Rivas, bersama dengan pengemudi mereka yang berusia 60 tahun Efrain Segarra.
Dua minggu setelah menculik ketiganya, kelompok itu mengumumkan bahwa ketiganya telah meninggal ketika tentara mendekati tempat mereka ditahan.
Pembunuhan itu menyebabkan kemarahan dan kesedihan di Ekuador
Tak lama setelah tubuh mereka ditemukan, kelompok itu juga disalahkan atas pembunuhan pasangan Ekuador.
[mel]
BERITA TERKAIT: