Demikian disampaikan mantan peneliti senior TRT World Research Centre, Jamal Abdullah di kampus Pascasarjana Universitas Islam Negri (UIN) Jakarta, Senin (24/9).
Jamal menuturkan, revolusi tersebut diantaranya menginginkan perubahan dalam sistem antidiktatosif, diktatosif dapat diartikan sebagai jabatan presiden selama hingga akhir hayatnya, atau disebut antimonarki.
"Bahwa kebijakan-kebijakan asing atau internasional dari negara-negara teluk dan krisis-krisis politik terutama di Syiria dan Yaman sangat dipengaruhi oleh revolusi yang terjadi di Timur Tengah terutama yang terjadi di negara-negara teluk," tutur pengajar di Universitas Oxford itu.
Kondisi yang tidak harmonis antara Arab Saudi dan Qatar semakin terlihat dengan Arab Saudi yang mengisyaratkan untuk memperlanjut penggalian kanal menjadi semenanjung Qatar sehingga menjadi pulau terpisah dari daratan Arab.
Jamal menambahkan, untuk meredakan situasi, Qatar kini mencoba menjadi penengah. Misalnya Yaman dan Arab Saudi diundang untuk memecahkan masalah di luar kekerasan dan peperangan.
Namun kata dia solusi tersebut sangat tidak efektif sebab Arab Saudi telah mendeklarasikan perang di Yaman melalui Washington DC Amerika Serikat.
"Jadi agak sulit tapi Qatar mencoba untuk state back tidak terlalu mengemukakan perbedaannya dengan Saudi, supaya cair, hal itukan sulit," demikian Jamal.
[rus]
BERITA TERKAIT: