Menurut kepala unit kontra-terorisme Inggris Panglima Dean Haydon, mereka memiliki persediaan bom bensin di belakang van mereka dan melakukan serangan mematikan mereka dengan pisau keramik berwarna pink.
Penemuan, terutama rencana untuk menyewa truk, menunjukkan bahwa aksi tersebut terencana dengan rapi.
"Mendapatkan truk berukuran 8,3 ton efeknya bisa saja lebih buruk lagi," kata Haydon seperti dimuat
Reuters.
Meski kelompok militan ISIS mengklaim serangan tersebut, namun Haydon mengatakan bahwa tidak ada bukti bahwa penyerang disutradarai oleh orang lain, baik Di Inggris atau di luar negeri
"Kami tidak mencari jaringan yang lebih luas," kata Haydon, kepala Komando Terorisme London, menambahkan bahwa perwira masih berusaha mengumpulkan bagaimana ketiga orang tersebut bertemu.
"Bagaimana mereka saling mengenal? Mereka adalah kelompok yang beragam," katanya.
Haydon memberikan rincian yang luar biasa luas tentang serangan Sabtu lalu, yang paling mematikan di London sejak pelaku bom bunuh diri membunuh 52 orang di jaringan transportasi kota tersebut pada tahun 2005.
Pada hari Sabtu pagi di hari kejadian, salah seorang pelaku mencoba menyewa sebuah truk berukuran 8,3 ton namun tidak memberikan rincian pembayaran.
Tidak jelas mengapa dia tidak bisa membayar, atau jika dia tidak memiliki lisensi yang diperlukan untuk mengemudikan kendaraan semacam itu. Namun usahanya meniru serangan Juli lalu di Nice, Prancis, saat sebuah truk seberat 19 ton dibawa ke kerumunan orang, menewaskan 86 orang, gagal dilakukan.
Namun akhirnye mereka mendapatkan sebuah van Renault untuk disewa.
Ketiga pelaku kemudian mengambil van sebelum menuju ke rumah Zaghba di London timur. Dua jam kemudian van tersebut sampai di Jembatan London yang mereka lewati dua kali sebelum menargetkan pejalan kaki di trotoar pada putaran ketiga mereka.
Tiga orang di jembatan dipukul dan dibunuh oleh van, sebelum orang-orang meninggalkan kendaraan dan mulai menyerang orang-orang di bar dan restoran di area Pasar Borough yang ramai.
[mel]
BERITA TERKAIT: