Kantor berita Amaq yang terhubung dengan ISIS membuat pernyataan tersebut dalam sebuah pernyataan Arab mengenai aplikasi perpesanan Telegram.
Kementerian Luar Negeri China seperti dimuat
BBC, mengatakan bahwa pihaknya sangat prihatin dan berusaha memverifikasi informasi tersebut.
Kedua warga China tersebut dikatakan telah mempelajari Bahasa Urdu di pusat bahasa di kota Quetta saat mereka diculik.
Menurut laporan media lokal pada saat penculikan tersebut, orang-orang bersenjata mengambil kedua WN China tersebut saat mereka meninggalkan pusat tersebut. Seorang wanita China lainnya berhasil lolos saat konfrontasi.
Pada saat itu, baik ISIS maupun kelompok militan lainnya mengatakan bahwa mereka telah menculik pasangan tersebut.
Balochistan telah melihat penculikan warga negara asing dalam beberapa tahun terakhir oleh kelompok bersenjata Islam atau separatis, kadang-kadang untuk mendapatkan uang tebusan.
ISIS menguasai beberapa wilayah di Afghanistan dan telah berusaha untuk memperkuat pendiriannya di Pakistan sejak tahun 2015 ketika melakukan serangan pertamanya di negara tersebut.
China adalah salah satu sekutu utama Pakistan, melakukan investasi besar dalam proyek infrastruktur termasuk pembangkit listrik tenaga nuklir, jalan dan bendungan.
Di bawah prakarsa One Belt One Road China yang akan melihat pembangunan sebuah koridor ekonomi, orang-orang Pakistan cenderung melihat peningkatan investasi secara besar-besaran karena hubungan yang semakin dekat dipalsukan antar negara-negara tersebut. Balochistan adalah jantung dari investasi infrastruktur yang diusulkan.
[mel]
BERITA TERKAIT: