May menyebut bahwa perang melawan kelompok militan ISIS saat ini bergeser dari medan perang ke internet.
May akan mengangkat isu tersebut dalam momen KTT di Sisilia hari ini (Jumat, 26/5).
May menilai bahwa setiap negara harus mendorong perusahaan seperti Facebook, Google dan Twitter untuk memblokir pengguna yang mengirim konten ekstremis dan melaporkan individu kepada pihak berwenang jika ada bukti yang akan segera terjadi.
Ia pun percaya bahwa kerja sama antara negara-negara industri besar dapat membantu memaksa perusahaan media sosial untuk melakukan sejumlah langkah lebih seperti mengembangkan alat yang secara otomatis mengidentifikasi dan menghapus bahan berbahaya berdasarkan apa yang dikandungnya dan yang memasangnya, juga bisa memberitahu pihak berwenang bila bahan berbahaya diidentifikasi sehingga tindakan dapat dilakukan, dan merevisi kondisi dan pedoman industri untuk membuat mereka benar-benar jelas tentang apa yang merupakan bahan berbahaya.
"Banyak ahli, termasuk para profesional di dinas intelijen dan keamanan kami, telah menunjuk pada hubungan antara perang yang didukung pemerintah atau bertempur di negara lain dan terorisme di sini, di rumah," kata May seperti dimuat The Guardian.
"Kita harus cukup berani untuk mengakui bahwa perang melawan teror sama sekali tidak berjalan. Kami membutuhkan cara cerdas untuk mengurangi ancaman dari negara-negara yang memelihara teroris dan menghasilkan terorisme," tegasnya.
[mel]
BERITA TERKAIT: