Acara ini digelar pagi-pagi di tengah makin membludaknya arus para pendemo Trump ke Washington. Acara digelar Sabtu pagi-pagi waktu AS. Trump dan Pence datang ditemani istrinya masing-masing. Di dalam Katedral mereka berempat duduk di bangku barisan depan. Di belakangnya, keluarga Trump turut hadir di acara itu.
Sementara, lebih dari dua lusin pemimpin agama dengan pakaian kebesaran mereka duduk di bangku yang ada di tengah-tengah, di antara mereka adalah Imam Mohamed Magid dari All Dulles tokoh muslim terkenal di Washington. Ia juga terkenal dengan kritis terhadap Trump yang dalam kampanyenya berjanji memberlakukan larangan umat Islam memasuki AS. Perwakilan lain yang hadir tentu saja dari perwakilan Katolik, dan berbagai keyakinan yang dianut warga Amerika seperti Ortodoks Yunani, Mormon, Yahudi, Sikh, Buddha dan tradisi Baha'i.
Nah, dalam acara itu tiba giliran Magid untuk memberikan layanan doa. Magid membacakan dua surat yang menyampaikan pesan-pesan politik yang jelas untuk Presiden ke-45 tersebut. Dia membacakan Al-Quran Surat Al-Hujurat Ayat 13, dan Ar-Ruum Ayat 22. Saat ayat Al-Quran dilantunkan, dalam video yang beredar tampak Trump mendengarkan dengan seksama.
Surat Al-Hujurat :13 itu artinya Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kalian dalam keadaan sama, dari satu asal: Adam dan Hawâ'. Lalu kalian Kami jadikan, dengan keturunan, berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, supaya kalian saling mengenal dan saling menolong. Sesungguhnya orang yang paling mulia derajatnya di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa di antara kalian. Allah sungguh Maha Mengetahui segala sesuatu dan Maha Mengenal, yang tiada suatu rahasia pun tersembunyi bagi-Nya.
Ada pun Surat Ar-Ruum:22 artinya, Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan berlain-lainan bahasamu dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikan itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui.
Guru Besar Hukum Internasional UI Hikmahanto Juwana mengatakan, ada beberapa hal yang menarik dicermati dalam pidato Donald Trump setelah pelantikannya sebagai Presiden AS. Kata dia, meski pidato tersebut ditujukan untuk rakyat AS dalam menggelorakan semangat baru namun pidato tersebut sepertinya ditujukan juga kepada masyarakat dunia.
Apa saja? Pertama, Trump menganggap penting lapangan pekerjaan bagi rakyat AS dan itu yang akan mewarnai kebijakan-kebijakan yang akan dibuat. Kedua patriotisme dibangun dengan slogan-slogan
American First kemudian juga
Buy and Hire Americans. "Bahkan kebijakan yang terkait dengan perdagangan, pajak, keimigrasian dan masalah luar negeri dinyatakan akan memperhatikan keuntungan bagi pekerja Amerika dan keluarganya," kata Hikmahanto, kepada
Rakyat Merdeka, kemarin.
Ketiga, Trump seolah tidak mau lagi AS berperan sebagai polisi dunia dengan biaya dari AS yang memungkinkankan negara lain menjadi lebih sejahtera dan aman daripada Amerika sendiri. Selanjutnya, Trump sangat berani dalam pidato kenegaraannya yang menyebut teroris dengan sebutan
Islamic Radical Terrorist. Seolah yang hendak diberangus adalah kelompok teroris yang berbau Islam. Ini tentunya akan mengundang ketidak-sukaan dunia Islam baik pejabat dan rakyatnya terhadap AS.
Kelima pernyataan bahwa
we will build new alliances menjadi pertanyaan apakah AS akan bermitra secara erat dengan Rusia? Keenam, Trump menyerukan persatuan dari rakyat AS yang dia sadari terpecah dengan terpilihnya sebagai Presiden AS.
"Dalam menjalankan pemerintahannya, Trump mengindikasikan akan berbeda dengan para pendahulunya. Ini karena menurut Trump para politisi dianggap lebih mementingkan kesejahteraannya daripada kesejahteraan rakyat. Trump menyampaikan hal ini karena mungkin ia sadar bahwa ia tidak mempunya latar belakang sebagai politisi atau pejabat pemerintah," kata Hikmahanto.
Sementara, hari ini
Director of Jamaica Muslim Center Amerika Serikat, Imam Shamsi Ali dijadwalkan hadir di Universitas Hasanuddin (Unhas).
Lewat acara satu jam bersama Imam Shamsi Ali, ia akan membahas Amerika di bawah Kepemimpinan Trump: Peluang dan Tantangan Dakhwah di Masjid Al Aqhso Unhas, depan Fakultas Kedokteran Unhas, mulai pukul 18.00 wita.
Acara tersebut diselenggarakan atas kerjasama LDM Al Aqsho Unhas dan Komunitas Mahasiswa Pecinta Al Quran Unhas dan didukung Nusantara Foundation.
Donald Trump yang kini resmi menjadi presiden AS ke-45 dinilai sebagai sosok yang Islamophobia. Saat masa kampanyenya, ia pernah menyatakan akan menutup Amerika Serikat bagi Muslim, meskipun peryataannya tersebut ia ubah kembali. ***