"Korea Selatan dan Amerika Serikat berfokus pada serangan presisi terhadap kepeimpinan tertinggi utara dan fasilitas nuklir dan rudal serta fasilitas inti lainnya di saat darurat," begitu keterangan yang disampaikan oleh Korean Committee for Solidarity with the World People yang diterima redaksi.
Sehubungan dengan situasi tersebut, pemerintah, partai politik dan sejumlah organisasi di Korea Utara mengeluarkan pernyataan khusus pada Rabu (16/3).
"Pernyataan khusus mengutip Hukum Negara Korea Utara menyatakan bahwa dalam kasus di mana kepemimpinan tertinggi terancam, semua sarana serangan termasuk nuklir akan dikerahkan untuk melaksanakan serangan pendahuluan terhadap negara-negara dan benda yang secara langsung atau tidak langsung terlibat," sambung keterangan tersebut.
Latihan militer gabungan yang dilakukan Korea Selatan dan Amerika Serikat sendiri mulai dilakukan sejak 7 Maret lalu. Latihan yang rencananya akan dilakukan selama sekitar dua bulan itu merupakan yang terbesar yang pernah dilakukan di Semenanjung Korea.
Latihan gabungan itu, melibatkan bukan hanya 17 ribu pasukan Amerika Serikat dan 300.000 pasukan Korea Selatan, tapi juga sederat armada tempur canggih. Termasuk di dalam armada tempur canggih yang dilibatkan dalam latihan militer gabungan itu adala termasuk kapal induk bertenaga nuklir John C. Stennis, pembom strategis B-52 dan B-2, jet tempur siluman F-22, F-15K dan KF-16.
Maka tak heran bila Korea Utara merasa terancam atas latihan gabungan tersebut dan menilai bahwa latihan itu sebagai bentuk provokasi. Lebih-lebih, latihan gabungan dilakukan menyusul sanksi baru yang duterapkan oleh PBB menyusul uji coba bom hidrogen Januari lalu dan peluncuran satelit bumi Februari kemarin.
[mel]
BERITA TERKAIT: