Lebih spesifik, negeri sakura kehilangan 947.345 jiwa antara tahun 2010 hingga 2015. Ini adalah penurunan pertama yang terjadi di Jepang sejak pencatatan sensus resmi dimulai pada tahun 1920an.
Data sensus resmi Jepang terbaru ini menunjukkan indikasi bahwa ketika sebuah bangsa menjadi semakin besar, maka kecenderungan orang untuk memiliki bayi menjadi lebih sedikit pada usia lanjut. Hal ini memicu terjadinya krisis demografi.
Dikabarkan
The Guardian (Jumat, 26/2), menurut data PBB, penduduk Jepang diperkirakan akan menyusut menjadi 83 juta jiwa pada tahun 2100 mendatang dengan 35 persen di antaranya adalah penduduk dengan usia di atas 65 tahun.
Para ekonom khawatir dengan tren penurunan populasi semacam itu karena bisa berimbas pada masalah perekonomian Jepang.
Sementara itu pemerintah Perdana Menteri Shinzo Abe telah mencoba untuk mengatasi krisi dengan cara menempatkan anggota parlemen Katsunobu Kato sebagai "Menteri untuk 100 juta orang yang aktif".
Kato memiliki tugas untuk menstabilkan tingkat kelahiran di Jepang.
[mel]
BERITA TERKAIT: