Begitu kata UNICEF dalam data terbaru yang dirilis untuk memperingati International Day of Zero Tolerance for FGM seperti dimuat
The Guardian (Jumat, 5/2).
Untuk diketahui, FGM atau pemotongan nagian luar klitoris alat kelamin perempuan merupakan bagian dari ritual tradisional. FGM biasa dilakukan dengan silet atau pisau oleh dukun atau pakar sunat tradisional tanpa adanya anestesi.
Praktik semacam ini marak terjadi di negara-negara di kawasan Afrika. Negara dengan tingkat FGM tertinggi menurut data UNICEF adalah Somalia. Sekitar 98 persen dari populasi perempuan berusia antara 15-49 tahun telah mengalami FGM.
Namun data terbaru yang dirilis UNICEF mencengangkan, pasalnya ditemukan bahwa pada saat ini, di seluruh dunia setidaknya ada sekitar 200 juta perempuan yang telah mengalami FGM. Mereka hidup di 30 negara di dunia, termasuk 70 juta korban FGM tambahan pada tahun 2014 lalu. Setengah di antaranya berasal dari tiga negara, yakni Indonesia, Mesir dan Ethiopia.
Penulis utama laporan UNICEF tersebut Claudia Cappa, FGM diperkirakan dipraktikan lebih luas daripada yang dipikirkan oleh peneliti.
"Kami tahu Indonesia memiliki pertumbuhan populasi perempuan dan anak perempuan, tapi saya akan mengatakan (angka-angka ini) lebih tinggi dari yang diperkirakan," kata Cappa.
"Ini menunjukkan bahwa hal itu merupakan isu global, ketika fokus sebelumnya adalah Afrika," ujarnya.
Dalam data yang sama ditemukan bahwa sekitar 44 juta korban FGM di seluruh dunia berusia 14 tahun atau lebih muda.
[mel]
BERITA TERKAIT: