BOM STARBUCKS

Teror Jakarta Konfirmasi Pelebaran Sayap ISIS

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/amelia-fitriani-1'>AMELIA FITRIANI</a>
LAPORAN: AMELIA FITRIANI
  • Jumat, 15 Januari 2016, 11:56 WIB
Teror Jakarta Konfirmasi Pelebaran Sayap ISIS
Abu Bakr al-Baghdadi/net
rmol news logo Serangan bom yang dibawa oleh simpatisan ISIS di Jakarta kemarin serta serangkaian serangan lainnya yang baru-baru saja terjadi di Turki, Irak, Kamerun, dan Perancis yang juga dibawa oleh kelompok yang sama tak pelak mengkonfirmasi bahwa ISIS saat ini telah berhasil melebarkan sayap pengaruhnya.

Kendati Irak dan Suriah, yang diklaim ISIS sebagai tanah air mereka, saat ini tengah dibanjiri kampanye militer dari koalisi pimpinan Amerika Serikat dan juga Rusia, namun langkah kelompok pimpinan Abu Bakr al-Baghdadi itu bukannya melemah. Sebaliknya, justru ada pergeseran strategis dari ISIS untuk melancarkan aksi di luar wilayah tersebut. Bukan hanya di kawasan Timur Tengah, tapi juga ke Eropa dan juga Asia.

Teror yang terjadi di Paris November lalu menunjukkan bagaimana merusaknya aksi kelompok ISIS di luar wilayah kekuasaannya. Metodologi serangan serupa pun di bawa ke Indonesia dengan menargetkan warga sipil dan menyasar simbol-simbol tertentu, seperti kafe Starbucks yang berasal dari Amerika Serikat serta polisi yang merupakan simbol dari otoritas negara.

Seorang peneliti dari Institute for Policy Analysis of Conflict, Sidney Jones dalam artikel yang dimuat The Guardian (Kamis, 14/1) mencatat, keberhasilan serangan di Paris Perancis yang menelan 130 korban jiwa menarik pujian dari sekitar 500 hingga 700 warga negara Indonesia yang ikut berjuang bersama ISIS di Suriah. Serangan itu menginsiprasi mereka untuk melakukna hal serupa di Indonesia.

Hal itu terlihat dari tulisan mantan tahanan yang juga intelektial jihad Bahrun Naim yang memposting tulisan di blog berjudul "Pelajaran Dari Serangan Prancis". Ia mendesak para calon jihadis di Indonesi yantuk mempelajari perencanaan, penargetan, waktu, koordinasi , keamanan dan keberanian dari serangan Paris lalu.

Walau bagaimanapun, kampanye teror internasional ISIS dirancang untuk memajukan tujuan ideologis yang mereka klaim sendiri, yakni memperluas ketakutan, mempromosikan ide-ide ISIS, serta menerapkan hukum syariah versi mereka .

Bila tubuh ISIS tidak dilenyapkan, prospek untuk mengakhiri kampanye teror kelompok tersebut di belahan dunia amat kecil. Pasalnya, seperti pernah dikatakan oleh Jurnalis Kanada yang juga merupakan akademisi Graeme C.A. Wood, ISIS bukan kelompok yang ingin mencari perdamaian dengan musuh-musuhnya. Kelompok militan itu tidak mengenal kata gencatan senjata atau perundingan dengan pihak yang mereka anggap musuh. ISIS hanya menjalankan miis mereka untuk menghancurkan ratusan juta umat Muslim Syiah yang mereka anggap sebagai bidah serta semua Muslim yang mereka anggap sekuler.

Sementara kampanye militer terus dilangsungkan barat, namun ISIS di Suriah dan Irak terus melakukan rekrutmen asing untuk meningkatkan jumlahnya. Namun demikian, kelangsungan kampanye teror global tergantung pada kemampuan ISIS menarik afiliansi dan simpatisan di seluruh dunia. [mel]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA