Hubungan Iran-Arab Saudi Masuki Fase Terburuk Sejak Hampir 3 Dekade Terakhir

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/amelia-fitriani-1'>AMELIA FITRIANI</a>
LAPORAN: AMELIA FITRIANI
  • Selasa, 05 Januari 2016, 18:41 WIB
Hubungan Iran-Arab Saudi Masuki Fase Terburuk Sejak Hampir 3 Dekade Terakhir
protes warga iran atas eksekusi ulama syiah/net
rmol news logo Hubungan bilateral antara Arab Saudi dan Iran saat ini memasuki fase terburuk dalam kurun waktu hampir 30 tahun terakhir.

Memburuknya hubungan tersebut dipicu oleh eksekusi tokoh ulama Syiah Nimr al-Nimr oleh Arab Saudi akhir pekan lalu yang memantik reaksi dari Tehran. Kedutaan Besar Arab Saudi di Iran dirusak massa yang protes atas eksekusi tersebut. Pasca kejadian tersebut Arab Saudi memutus hubungan diplomatik dengan Iran dan memanggil pulang duta besarnya.

Ketegangan dalam hubungan antara Iran dan Arab Saudi itu berpengaruh, bukan hanya terkait kedua negara tersebut, tapi juga terkait dengan masalah geopolitik di kawasan Timur Tengah.

Begitu kata peneliti Timur Tengah dari Rice University's James A Baker III Institute for Public Policy dan Associate Fellow with the Middle East and North Africa Programme di Chatham House, Kristian Coates Ulrichsen dalam tulisannya yang dipublikasikan BBC pada Selasa (5/1).

Menurut analisanya, situasi saat ini antara Iran dan Arab Saudi merupakan yang terburuk sejak tahun 1980an lalu. Pada saat itu kedua negara pernah menangguhkan hubungan diplomatik, tepatnya antara tahun 1988 dan 1991. Hal itu muncul setelah didahului dengan akhir dekade pergolakan yang membuka dekade untuk Revolusi Iran tahun 1979 dan penggilingan perang delapan tahun antara Iran dan Irak, tepatnya tahun 1980 hingga 1988.

Pada masa tersebut, Arab Saudi dan negara-negara teluk lainnya yang tergabung dalam Gulf Cooperation Council (GCC) mendukung Saddam Hussein dari Irak. PAda tahun 1984, Arab Saudi pernah menembak jatuh sebuah jet tempur Iran yang diklaim telah memasuki wilayah udara Arab Saudi. Hubungan Iran dan Arab Saudi sangat buruk pada saat itu.

Situasi antara Iran dan Arab Saudi saat ini memang tidak dalam keadaan konfrontasi ataupun perang, namun Kristian menilai hal itu buan berarti situasi saat ini tidak seburuk ketegangan pada tahun 1980an itu. Menurutnya, setidaknya ada tiga alasan mengapa situasi saat ini bisa disebut serius.

Pertama, adanya warisan dari tahun-tahun politik sekretarian yang membagi Timur Tengah dalam garis Sunni Syiah. Hal itu menumbuhkan sikap saling ketidakpercayaam yang mendalam antara Iran dan negara-negara tetangganya di teluk. Dalam situasi tersebut jalan tengah moderat bisa dikatakan sangat lemah dan kustru pendekatan garis keras yang saat ini berkuasa.

Alasan kedua adalah karena negara-negara Teluk telah menjalankan kebijakan luar negeri yang semakin tegas selama empat tahun terakhir terutama terkait campur tangan Iran dalam konflik regional saat ini.

Ketiga adalah, bagi kebanyakan negara-negara Teluk, ancaman utama dari Iran bukanlah terkait dengan program nuklir, melainkan dukungan Iran pada para pelaku militan non-negara seperti Hizbullah dan pemberontak Syiah Houthi di Yaman.

Dalam situasi yang memburuk antara Iran dan Arab Saudi saat ini akan berimbas pada masa depan sejumlah terobosan diplomatik yang saat ini tengah berlangsung di Suriah dan Yaman. Baik Iran maupun Arab Saudi sama-sama ikut ambil bagian dalam sejumlah perundingan dan diplomasi terkait upaya perdamaian di kedua negara tersebut. [mel]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA