
Kelompok militan ISIS dikabarkan menculik 78 orang guru di wilayah Niniwe, provinsi utara Irak setelah menolak untuk mempromosikan kurikulum terkait dengan prinsip-prinsip ISIS dalam sistem pendidikan di wilayah tersebut.
Menurut keterangan sebuah sumber yang dikutip
Press TV (Minggu, 3/1), kurikulum yang dimaksudkan mengajarkan anak-anak pelajaran soal bagaimana melakukan penyanderaan, serangan bom dan teror lainnya.
Bila hal tersebut benar, maka ISIS semakin gencar menggunakan anak-anak sebagai alat teror baru.
Tahun lalu, seorang pemimpin suku di provinsi Anbar, Irak barat menyebut bahwa ISIS secara aktif berusaha untuk merekrut anak-anak lokal untuk masuk ke barisan sebagai calon pembom. Demi merealisasikan hal tersebut ISIS bahkan telah mendirikan kamp pelatihan untuk anak-anak di provinsi Suriah Raqqah dan Kabupaten Heet di Irak Anbar.
ISIS berupaya mencuci otak anak-anak di kamp-kamp pelatihan serta melatih mereka bagaimana untuk melakukan serangan bom terhadap pos pemeriksaan militer dan sipil.
[mel]
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.
BERITA TERKAIT: