Data tahun 2013 menyebutkan bahwa angka kematian bayi di negara tersebut adalah 32,8 per 1.000 kelahiran. Jumlah tersebut dinilai jauh lebih tinggi bila dibandingkan dengan negara-negara dengan pendapatan sebanding seperti Mesir, Indonesia atau Aljazair.
Salah satu faktor tingginya angka kematian bayi adalah karena kurangnya asupan gizi, terutama dari Air Susu Ibu (ASI). Menurut UNICEF, anak-anak yang mendapatkan ASI ekslusif memiliki potensi 14 kali lipat untuk bertahan hidup dalam enam bulan pertama kehidupan daripada anak-anak yang diberi susu formula.
Namun Afrika Selatan memiliki tingkat menyusui yang sangat rendah, yakni hanya 7,4 persen. Hal itu merupakan dampak dari kemiskinan serta pemasaran yang efektif oleh perusahaan susu formula bayi.
Ibu-ibu dari kalangan kurang mampu harus kembali bekerja usai melahirkan sehingga tak cukup waktu untuk menyusui.
Melihat situasi tersebut, kelompok yang menamakan diri South African Breastmilk Reserve (SABR) menggalakkan bank ASI. Prinsip bank ASI itu sederhana, yakni ibu sehat menyumbangkan ASI nya, kemudian ASI tersebut diuji untuk selanjutnya menjalani proses pasteurisasi demi menghilangkan bakteri dan dikirim ke bayi yang membutuhkan.
"Setiap tetes ASI berharga," kata SABR.
Sepanjang tahun 2015 lalu, jaringan bank susu itu memasok susu ke 87 rumah sakit dan membantu lebih dari 2.800 anak.
Langkah tersebut dinilai efektif untuk menekan angka kematian bayi di Afrika Selatan.
"Bank ASI harus dipromosikan dan didukung sebagai pendekatan yang efektif untuk mengurangi angka kematian untuk bayi yang tidak dapat disusui," kata kementerian Afrika Selatan kesehatan dalam sebuah laporan baru-baru ini seperti dimuat
AFP.
[mel]
BERITA TERKAIT: