Paus Fransiskus Minta Kemurahan Hati Amerika Tengah Bagi Migran Kuba

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/amelia-fitriani-1'>AMELIA FITRIANI</a>
LAPORAN: AMELIA FITRIANI
  • Senin, 28 Desember 2015, 07:56 WIB
Paus Fransiskus Minta Kemurahan Hati Amerika Tengah Bagi Migran Kuba
paus fransiskus/net
rmol news logo Pemimpin gereja Katolik Roma, Paus Fransiskus menyerukan agar negara-negara di Amerika Tengah menunjukkan kemurahan hati dalam menangani masalah meningkatnya jumlah migran dari Kuba yang terdampar di kawasan tersebut.

"Saya mengundang negara-negara di kawasan tersebut untuk memperbaharui kemurahan hati dalam melakukan semua upaya yang diperlukan untuk menemukan solusi yang cepat untuk drama kemanusiaan ini," kata Paus di hadapan para jemaatnya di St Petrus Vatikan seperti dimuat BBC (Minggu, 27/12).

Paus menyebut, banyak dari warga Kuba yang melewati Amerika Tengah merupakan korban perdagangan manusia.

Diketahui, sejak beberapa waktu terakhir, sejumlah negara di Amerika Tengah seperti Kosta Rika dan Nikaragua menghadapi masalah kebanjiran migran dari Kuba. Mereka datang ke negara-negara tersebut untuk bisa kemudian pergi ke Amerika Serikat melalui jalur darat.

Jumlah migran Kuba yang menempuh jalur darat menuju Amerika Serikat sebenarnya telah meningkat sejak Desember 2014 lalu, saat kedua negara memutuskan untuk memulihkan hubungan bilateral.

Hal tersebut justru menyebabkan ribuat warga Kuba khawatir. Mereka takut hal tersebut mengubah kebijakan di Amerika Serikat terkait Kuba.

Amerika Serikat sendiri memiliki kebijakan imigrasi khusus untuk warga Kuba yang dikenal dengan sebutan "wet foot, dry foot". Kebijakan tersebut memungkinkan warga Kuba yang berhasil sampai di Amerika Serikat melalui jalur darat untuk mengajukan residensi sementara. Sedangkan warga Kuba yang masuk ke Amerika Serikat melalu jalur laut akan dipaksa kembali ke negaranya.

Kebijakan Amerika Serikat itu menyebabkan banyak migran Kuba menempur jalur darat dengan rute dari Kuba terbang ke Ekuador. Negara tersebut sebelumnya tidak mensyaratkan visa bagi warga Kuba. Kemudian, dari Ekuador, para migran melakukan perjalanan ke utara melalui Kolombia, Panama, dan Kosta Rika untuk kemudian tiba di Nikaragua dan kemudian ke sejumlah negara lainnya sebelum akhirnya tiba di Amerika Serikat.

Namun karena ada perbaikan hubungan antara Amerika Serikat dan Kuba dalam kurun waktu satu tahun terakhir ini, banyak warga Kuba yang khawatir bahwa Amerika Serikat akan mengubah kebijakan "wet foot, dry foot" itu. Karena itu lah tak heran gelombang migran Kuba yang menuju Amerika Serikat semakin meningkat. Para migran tersebut hendak tiba di Amerika Serikat sebelum ada perubahan kebijakan.

Melihat fenomena tersebut, sejumlah negara yang menjadi rute para migran mengubah kebijakan mereka untuk mengerem gelombang migran Kuba. Nikaragua memutuskan untuk menutup perbatasannya bagi para migran dari Kuba sejak November lalu. Sedangkan Ekuador memperbaharui kebijakannya soal visa bagi Kuba.

Akibatnya, ribuan warga Kuba terdampat di Kosta Rika karena tidak bisa melanjutkan perjalanan darat ke Nikaragua. Kosta Rika pun sejak beberapa waktu terakhir mulai memulangkan migran Kuba ke nagaranya. [mel]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA