Begitu kata Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong dalam penutupan acara East Asia Summit on Religious Rehabilitation and Social Integration pada Jumat (17/4).
Lee menjelaskan, tindakan keamanan dan operasional tidak cukup untuk melawan ancaman teror. Melainkan diperlukan juga rehabilitasi dan reintegrasi.
Dalam konteks Singapura, kata Lee, negaranya perlu mengatasi agama dan sosial sebagai bagian dari pendekatan yang lebih luas untuk mengatasi masalah.
"Komunitas Muslim perlu dibimbing dan bekerja harus dilakukan untuk mencegah ide-ide sesat dan berbahaya. Kami harus bekerja untuk membangun masyarakat yang terintegrasi, harmonis dan multi-agama. Sehingga kita menghindari masalah marjinalisasi, kantong-kantong agama, kesalahan persepsi dan kebencian, yang dapat memicu terciptanya ekstremisme agama dan terorisme," jelas Lee seperti dimuat
Channel News Asia.
"Secara khusus, di Singapura, kami memiliki minoritas besar Muslim di tengah-tengah kita, hidup damai dengan ras lain dan agama Jadi setiap serangan teroris memanggil nama Islam sia-sia akan memiliki konsekuensi serius bagi kita," tandasnya.
[mel]
BERITA TERKAIT: