Serangan yang itu dilekukan FARC dengan cara melepaskan tembakan dan granat ke sebuah paviliun olahraga di mana para tentara sedang tertidur. Akibatnya 11 orang tentara tewas dan 19 lainnya luka-luka.
Menanggapi hal tersebut, Presiden Santos mengecam dan mencabut penangguhan dan memerintahkan tentara untuk menggempur kamp Farc.
Associated Press mengabarkan, langkah yang diambil Santos membahayakan keberlangsungan pembicaraan damai selama dua tahun yang dilakukan antara pemerintah dan kelompok pemberontak.
Namun demikian, pemerintah Kolombia tidak meberikan indikasi untuk menarik diri dari pembicaraan damai itu. Santos menyebut bahwa pertumpahan darah semakin menggarisbawahi perlunya upaya untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung selama setengah abad di Kolombia.
"Biar kita perjelas kepada FARC, saya tidak akan membiarkan diri saya ditekan oleh tindakan keji seperti ini," tegas Santos saat memberikan pernyataan di Cali, Kolombia.
[mel]
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.
BERITA TERKAIT: