Lubitz diketahui berhenti dari pelatihan pilot selama beberapa bulan pada tahun 2009 lalu. Saat ia kembali ke pelatihan, ia menyampaikan kepada instruktur pilot Lufthansa melalui email bahwa ia tengah mengatasi masa depresi berat. Lubitz pun kemudian berhasil mendapatkan sertifikat untuk menerbangkan pesawat komersial pada tahun 2012.
Di bawah peraturan Eropa, pilot dengan kondisi kejiwaan harus dirujuk ke otoritas perizinan oleh penguji aeromedical, yang kemudian dapat memutuskan untuk membatasi lisensi pilot.
Otoritas penerbangan Jerman Luftfahrtbundesamt (LBA) pada Minggu (5/4) menyebut bahwa pihaknya tidak mendapatkan informasi sama sekali soal catatan kejiawaan Lubitz.
Menanggapi hal tersebut, seperti dimuat
Reuters, pihak Lufthansa pada Senin (6/4) menyebut bahwa ketentuan dalam aturan baru yang diperkenalkan di Jerman pada tahun 2013, menjaga sertifikat fly-to-fly tertentu yang suda ada serta sertifikat medis yang dikeluarkan oleh dokter penerbangan khusus.
Nama Lubitz sendiri belakangan menjadi sorotan. Co-pilot Germanwings, yang merupakan anak maskapai penerbangan Lufthansa itu diduga menjadi sosok yang bertanggungjawab atas kecelakaan pesawat di pegunungan Alpen. Dalam kecelakaan yang menewaskan 150 orang itu, Lubitz diduga dengan sengaja menerbangkan rendah pesawat hingga menabrak Alpen.
[mel]
BERITA TERKAIT: