"Amerika Serikat menebar manipulasi kondisi HAM Korea Utara," kata Duta Besar Korea Utara untuk Indonesia Ri Jong Ryul dalam pertemuan dengan sejumlah wartawan di Kedutaan Besar Korea Utara di Jakarta (Kamis, 16/10). Pertemuan antara jurnalis dan Kedubes Korut ini terbilang langka, bahkan dapat dikatakan inilah pertemuan resmi pertama jurnalis Indonesia dengan pihak Kedubes Korea Utara setidaknya dalam satu dekade terakhir
Demi meluruskan situasi HAM tersebut, Korea Utara merilis sebuah laporan yang diberi judul "Report of the DPRK Association for Human Rights Studies" pada 13 September lalu.
Dalam laporan setebal 110 halaman itu dijelaskan secara detil, mulai dari sejarah, ideologi, hingga sistem sosial di Korea Utara. Selain itu juga dijabarkan soal standar, pengembangan, serta mekanisme perlindungan HAM yang diterapkan di Korea Utara.
Laporan itu juga memaparkan fakta yang sesungguhnya terjadi di Korea Utara terkait isu HAM, juga dijelaskan secara rinci soal hak-hak yang dimiliki oleh warga Korea Utara, mulai dari hak politik, hak sipil, hak sosio-ekomi, hak sosial-budaya, hingga hak kelompok khusus.
Dalam laporan yang sama, Korea Utara juga menunjukkan posisinya dalam upaya untuk mempromosikan HAM di level internasional serta hambatan utama dalam melakukan promosi itu.
Selaras dengan laporan tersebut, Dubes Ri menegaskan bahwa salah satu hambatan terberat dalam mempromosikan HAM Korea Utara adalah kebijakan bermusuhan (
hostile) yang diterapkan Amerika Serikat.
"Amerika Serikat dan negara-negara sekutunya bahkan mencoba menyeret Korea Utara ke pengadilan pidana internasional melalui Majelis Umum PBB," kata Dubes Ri.
Amerika Serikat sendiri, jelasnya, bukan negara yang bebas dari isu pelanggaran HAM.
"Kenapa Amerika Serikat tutup mata pada masalah HAM negara mereka, dan menjadikan diri mereka seolah hakim HAM," ujarnya.
Dubes Ri menilai, isu pelanggaran HAM dan nuklir digunakan Amerika Serikat dan negara-negara sekutunya untuk menjatuhkan Korea Utara.
"Mereka berupaya menjatuhkan sistem sosialis dan ideologi
juche Korea Utara yang merupakan filosofi persatuan negara," demikian Dubes Ri.
[mel]
BERITA TERKAIT: