Pasalnya, pasca Perang Dingin usai, dunia saat ini tidak lagi mengenal era bipolar, melainkan multipolar. Itu berarti, ada kekuatan lain di samping dua kekuatan dunia di masa Perang Dingin, Amerika Serikat dan Rusia. Kekuatan lain yang dimaksud itu tak lain adalah Tiongkok.
"Tiongkok telah menjadi kekuatan utama di bidang ekonomi," kata Dutabesar indonesia untuk Iran Dian Virengjurit dalam sebuah wawancara dengan
Mehrnews pada Selasa (2/9).
Menurutnya, pada kenyataan saat ini, setiap orang yang akan melakukan analisa ekonomi dunia harus mempertimbangkan Tiongkok. Kendati demikian, dalam ranah politik, Amerika Serikat dan Rusia masih memiliki kepentingan untuk bermain dalam peran global.
"Tapi sekarang ada hubungan antara ekonomi dan politik karena anda tidak dapat mengabaikan sektor ekonomi lagi," kata Dian.
Dengan demikian, pembicaraan global sata ini tidak bisa hanya terbatas pada persoalan konflik politik atau persaingan kekuatan politik.
"Tiongkok harus dianggap sebagai faktor lain yang mempengaruhi apa pun kekuatan politik yang berkembang. Karena kekuatan ekonomi Tiongkok akan memainkan peran," jelasnya.
"Itu sebabnya, upaya untuk memecahkan masalah, termasuk masalah nuklir Iran harus melibatkan Tiongkok," sambungnya.
Kata Dian, sejumlah sanksi ekonomi yang diterapkan oleh negara-negara Barat terhadap Iran akibat nuklirnya didasarkan pada keputusan politik. Dengan demikian, bila Tiongkok dilibatkan di dalamnya, negeri tirai bambu itu bisa mengambil peran lebih dan menggunakan pengaruhnya dalam proses pembuatan keputusan.
[mel]
BERITA TERKAIT: