Rouhani Beberkan Bukti Sejarah Iran Bersifat Demokratis

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/amelia-fitriani-1'>AMELIA FITRIANI</a>
LAPORAN: AMELIA FITRIANI
  • Selasa, 11 Februari 2014, 12:19 WIB
Rouhani Beberkan Bukti Sejarah Iran Bersifat Demokratis
hassan rouhani/net
rmol news logo Peringatan Revolusi Islam Iran jatuh pada hari ini (Selasa, 11/2) atau tanggal 22 kalender Bahman Iran.

Tahun ini merupakan peringatan ke-35 dari revolusi bersejarah yang menggulingkan sistem monarki di bawah kepemimpinan Shah Reza Pahlevi dan menggantinya dengan Republik Islam di bawah kepemimpinan Ayatullah Khomeini pada tahun 1979.

Presiden Iran, Hassan Rouhani, di depan sejumlah duta besar dan perwakilan politik dalam malam peringatan Revolusi Iran yang digelar Senin malam (10/2) di Teheran, menuturkan, Iran merupakan negara yang secara alami memiliki sifat demokratis sejak tahun-tahun awal Revolusi Islam terjadi.
 
"Majelis Permusyawaratan Nasional Pertama di kawasan didirikan di Iran," jelas Rouhani, seperti dikutip kantor berita Iran, IRNA.

Iran, lanjutnya, merupakan negara pertama di kawasan yang membentuk konstitusi di Majelis Kontitusi. Sekitar 50 tahun yang lalu, ketika rakyat Iran muak dengan pemerintahan yang sewenang-wenang, intervensi asing terutama dari Amerika Serikat, serta adanya kampenye melawan agama dan budaya, rakyat Iran memulai gerakan besar dari revolusi.

Dalam 16 tahun pergerakan Islam, rakyat Iran mendapatkan berbagai bentuk penyiksaan, termasuk pemenjaraan dan pembunuhan di jalan-jalan hingga akhirnya rakyat Iran berhasil mendapatkan kemenangan Islam.

Rouhani menekankan bahwa 35 tahun yang lalu pada hari ini, Revolusi Islam Iran mendapatkan kemenangan. Hanya selang 47 hari setelah revolusi, tutur Rouhani, rakyat Iran berbondong-bondong pergi ke tempat pemungutan suara untuk memutuskan pembentukan Republik Islam Iran.

Dalam kurun waktu satu tahun pertama revolusi, rakyat Iran telah memberikan suaranya melalui pemungutan suara sebanyak lima kali. Hal tersebut, tegas Rouhani, merupakan hal yang belum pernah terjadi sebelumnya di negara-negara demokrasi barat.

Ia menambahkan bahwa dalam situasi Iran yang menderita akibat sanksi yang sewenang-wenang, rakyat Iran masih mau memberikan suaranya dalam pemilihan presiden ke-11 yang digelar tahun lalu. Tercatat sekitar 73 persen rakyat Iran yang memiliki hak pilih menggunakan suaranya pada pemilihan presiden tersebut. [ald]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA