Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Hillary Clinton kembali dilarikan ke rumah sakit . Dia mengÂalami penggumpalan darah di otak, namun dokter memperkirakan, dia bakal sembuh total.
Kondisi Hillary makin memÂburuk beberapa pekan menÂjelang akhir jabatannya, seÂhingga harus dilarikan ke PresÂbyterian HosÂpital, New York, Minggu (30/12). BerÂdasarkan pemeriksaan, meski mengalami penggumpalan darah di antara otak dan tengkorak kepalanya di belakang telinga kanan, dokter memperkirakan, dia akan pulih sepenuhnya. Hal itu, menurut dokter, karena diÂplomat senior AS tersebut tak menderita “stroke atau kerusakan syarafâ€.
“Hillary mengalami kemajuan luar biasa dalam pemulihannya. Kami meyakini Hillary akan pulih total,†kata tim dokter diÂkutip Xinhua, kemarin.
Hillary telah mengalami seÂjumlah masalah kesehatan belaÂkangan ini. Pada 15 Oktober, dia pingsan dan kepalanya terbentur, lalu dia menderita gegar otak ringan. Sebelum itu, dia memÂbatalkan perjalanan yang sudah dijadwalkan ke Afrika Utara dan Timur Tengah akibat serangan virus perut. Pada 1998, Hillary pernah sempat mengalami pengÂgumpalan darah di kakinya.
Hillary sejatinya memiliki peÂluang yang baik untuk maju seÂbagai calon presiden 2016 seÂteÂlah dia kalah dari Obama daÂlam Konvensi Partai DeÂmoÂkrat 2008.
Beberapa kritikus menganggap sakitnya Hillary merupakan pembohongan publik untuk mengÂhindari masalah serangan mematikan tentara AS di Libya pada 20 Desember.
Hillary juga dikritik terkait serangan di Konsulat AS di seÂbelah utara Benghazi, Libya yang menewaskan satu Duta Besar AS John Christopher Stevens dan tiga orang Amerika lainnya.
Temuan Departemen Luar Negeri mengungkapkan bahwa lokasi tersebut memang tidak layak secara keamanan.
Hillary (65) telah mengatakan akan mundur dari jabatan MenÂteri Luar Negeri, ketika PreÂsiÂden Barack Obama mengÂakhiri masa jabatan pertaÂmaÂnya, 21 Januari. Obama telah mengÂajukan Senator Demokrat John Kerry sebagai pengganti HilÂlary. [Harian Rakyat Merdeka]
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.
BERITA TERKAIT: