LAPORAN DARI BELANDA

Junus Effendi Habibie: Tidak Ada yang Bisa Merusak Hubungan Baik Indonesia-Belanda

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/'></a>
LAPORAN:
  • Rabu, 19 Januari 2011, 07:23 WIB
Junus Effendi Habibie:  Tidak Ada yang Bisa Merusak Hubungan Baik Indonesia-Belanda
JE HABIBIE/IST

RMOL. Hampir seribu orang Indonesia berkumpul di Poeldijk, pinggiran kota Den Haag, Belanda. Mereka berasal dari berbagai suku bangsa di Indonesia. Disana ada dari suku Batak, Minahasa, Ambon (Maluku), Sulawesi  Selatan,  dan masih banyak lagi. Kedatangan mereka untuk melepas Duta Besar RI untuk Kerajaan Belanda.


“Saya betul-betul terharu dalam acara perpisahan saya sebagai Duta Besar RI untuk Kerajaan Belanda di Poeldijk  (di pinggir Den Haag) pada hari Sabtu (15/1) lalu. Saya tidak mengira,  begitu banyak orang yang datang,” kata Junus Effendi Habibie ketika bincang-bincang khusus dengan  Rakyat Merdeka Online di Wisma Duta, Minggu (16/1) lalu.  

Junus pun mengaku telah membangun hubungan baik dengan seluruh lapisan masyarakat Belanda.

"Saya telah membangun pertemanan, persahabatan baik dengan berbagai lapisan masyarakat Belanda, maupun dengan seluruh masyarakat Indonesia  tanpa kecuali di Negeri Belanda ini. Begitu banyaknya yang  yang datang dalam acara perpisahan itu membuat saya terharu dan sekaligus sangat menggembirakan hati saya," kata Junus.

Lebih lanjut, menjawab pertanyaan mengenai  apa menurutnya dari tugas-tugasnya sebagai  Duta Besar yang  sudah berhasil dicapai dan apa yang  belum diselesaikannya, JE Habibie, mengaku cukup puas.

"Saya cukup puas. Kedatangan saya mendapat tugas dari Pemerintah RI ke Negeri Belanda membawa pokok-pokok yang ditugaskan pemerintah, di bidang politik, ekonomi-perdagangan dan kebudayaan," jawab JE Habibie.

Dalam bidang politik,  lanjut Habibie, hubungan Indonesia dan Belanda telah terjadi hubungan bilateral yang sangat baik sekali. Inilah penuturan JE Habibie.

"Ini sebenarnya bukan oleh saya, tetapi  terutama para pendahulu saya telah banyak berbuat untuk hubungan baik kedua negara. Sedang saya hanya melanjutkannya saja. Baik kiranya saya kemukakan di sini mengenai masalah RMS. Pedekatan saya secara diplomasi kultural dan diplomasi kekeluargaan. Saya dapat mendekati masyarakat Maluku dan menyadarkan mereka, bahwa kita-kita ini orang-orang  Indonesia sama-sama bersaudara. Sehingga setelah saya di sini tidak pernah lagi ada demonstrasi yang diadakan oleh RMS pada bulan April di depan KBRI Den Haag.

Masyarakat Maluku yang tadinya terbagi dalam tiga grup, satu grup yang pro RI, satu - yang masih netral, dan yang satu lagi memegang garis keras kontra RI. Nah, sekarang ini, yang grup pro RI jelas, yang netral banyak yang menjadi pro RI, sedang yang berposisi keras anti Indonesia sebagian banyak yang sudah menjadi netral terhadap Indonesia.

Sehingga saya lihat di sini kemajuan cukup baik, cuma saya sayangkan masih belum selesai, maunya sih semua tuntas samasekali. Tadinya kumpulan Maluku itu sudah menjadi Aliansi Maluku (Alma), jadi unsur RMS menjadi  lebih kecil dan unsur Maluku yang pro Indonesia semakin besar. Jadi ini suatu kemajuan yang besar sekali. Dan saya diundang oleh mereka untuk suatu pertemuan. Jika dulu saya datang untuk pertama kali ke kantong-kantong RMS di Vlissingen, Den Haag  dan sebagainya, banyak mendapat sambutan baik.

Yang sangat baik sekali, ketika saya untuk pertama kalinya menyelenggarakan open house bersamaan dengan Hari Natal pada bulan Desember  2006 di Wisma Duta di Wassenaar ini. Saya kan datang ke Belanda pada bulan November 2006. Acara yang saya selenggarakan tersebut salah satunya menunjukkan, bahwa tidak ada perbedaan antara Islam dan Kristen di Indonesia.

Dan dalam acara open house dan peringatan Hari Natal pada tahun-tahun berikut kemudian dapat  masyarakat Indonesia bisa berkumpul bersama-sama. Terutama  masyarakat Maluku yang kebanyakan beragama Kristen itu percaya kepada saya, bahwa saya mau mengerti mereka dan mereka tahu poisisi saya. Dan mereka tahu betul posisi saya sebagai seorang nasionalis yang tegas tanpa kompromi mempertahankan NKRI dan Pancasila.

Dan yang sangat berkesan pada Hari Natal pada bulan Desember 2010 lalu, saya diundang oleh organisasi  Alma, orang-orang Maluku di Houten, tapi di undangannya ada (pasang) bendera RMS. Saya bilang, buang saja itu, kalau pakai bendera RMS, saya tidak mau datang, dan saya akan larang pihak KBRI datang ke pertemuan Hari Natal tersebut. Ternyata mereka mau meralat tidak pakai bendera RMS. Dalam acara kebaktian Hari Natal itu saya ikut hadir. Kemudian saya diminta bicara. Waktu saya bicara saya terangkan, bahwa negara kita menganut Pancasila, di mana semua orang baik penganut agama Kristen, maupun Islam dan lainnya itu sama hak dan kewajibannya. Dan dalam agama Kristen diajarkan soal hidup berdampingan secara damai, demikian juga dalam Islam. Jadi kita tidak boleh menganjurkan pertentangan,  tetapi mengutamakan kehidupan yang damai. Nah, pesan saya itu sampai dan diterima mereka.

Demikian juga dengan masyarakat Papua, KBRI berusaha  mengadakan hubungan atau berdialog dengan masyarakat Papua di Belanda. Pemerintah Indonesia mengirim satu delegasi orang-orang dari Papua datang ke sini untuk mendekati Nicolaas Youwe. Dalam pembicaraan saya dengan delegasi Indonesia tersebut, saya mengatakan, harus sangat hati-hati berbicara dengan Nicolaas Youwe, orang tua yang pandai dan fanatik. Delegasi orang-orang Papua yang dikirim pemerintah Indonesia itu mengatakan kepada saya, bahwa mereka mengerti dan akan berusaha mendekati karena mereka menganggap Nicolaas Youwe itu sebagai saudara kita sesama orang Papua. Namun setelah tiga hari, dan mereka bertemu dengan Nicolaas Youwe ternyata mereka gagal dan bahkan mereka diusir oleh Nicolaas Youwe.

Nah, sehari kemudian, saya dikabarkan, bahwa Nicolaas Youwe ingin bertemu dengan Duta Besar JE Habibie. “Saya percaya sama dia (Duta Besar  JE Habibie," red.). Dia orang baik,” kata Nicolaas Youwe. Kita bertemu di sebuah hotel. Ketika dia datang, saya langsung menyambutnya di pintu dan menolong membuka mantel (over coat)nya. Terus dia mengatakan kepada saya: “You are gentleman”.

Saya katakan, kita di Timur ini selalu menghormati orang tua. Dalam pembicaraan, Nicolaas Youwe mengatakan, bahwa dia seorang nasionalis Papua. Selama 47 tahun dia terus menerus memperjuangkan kemerdekaan Papua. Saya balas. Saya seorang nasionalis Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dan saya ingin, agar Papua bukan tetangga saya, tetapi  sebagai satu keluarga dengan saya. Di mana kita sama-sama mengangkat derajat saudara-saudara di Papua yang memang belum beruntung dibanding dengan saudara-saudara lainnya. Di masa lampau banyak hal-hal yang tidak atau kurang bagus kita lakukan, tetapi sekarang tidak boleh lagi. Di masa lampau pembangunan di Papua terabaikan dan sekarang tidak bisa lagi demikian.

Menanggapi hal itu, Nicolaas Youwe langsung mengatakan, Tuan Duta Besar berani mengakui hal itu, dan dia menghargai hal itu. Kemudian, dia berbicara dalam logat bahasa Ambon, yang saya jawab juga dengan bahasa Ambon. Dan pembicaraan menjadi  lebih akrab, karena pembicaraan kemudian tidak menggunakan bahasa Inggeris ataupun bahasa Belanda tapi kita berdialog dalam bahasa Ambon. Kami berdialog dalam bahasa Ambon. Saya berbicara santai dengan Nicolaas Youwe. Tidak ada tekanan apapun terhadapnya. Saya perlahan-lahan membujuknya. Kita bicara lewat pantun, yang pada akhirnya dia melalui pantun mengungkapkan keinginan untuk kembali ke Indonesia. Tadinya, saya ajak minum teh, saya ajak makan, dia tidak mau. Tetapi setelah kami saling lempar pantun, Nicolaas Youwe mengatakan, saya mau makan bersama dengan Bapak Duta Besar. Setelah itu hubungan kami menjadi akrab. Setelah waktu berjalan, kemudian dia melepaskan paspor Belandanya dan  ganti dengan paspor Indonesia dan dia pulang ke Indonesia sampai sekarang,"

Selain itu, JE Habibie pun mengaku menjalin hubungan khusus dengan para veteran Belanda, yang pernah bertugas di Hidia Belanda.

"Veteran Belanda yang pernah bertempur dari divisi ke-7  Desember di Jawa Barat, Panglimanya datang ke sini ke Wisma Duta, pada upacara Hari Proklamasi Kemerdekaan RI  17 Agustus 2010, memberi hormat kepada Sang Merah Putih.

Saya mendapat kehormatan veteran-veteran Belanda kurang lebih 120 orang  membuat satu resepsi untuk melepas saya pada tanggal 28 Desember 2010 lalu. Pada kesempatan tersebut Van Reel atas nama para veteran Belanda memberikan medali kepada JE Habibie sebagai penghargaan atas jasanya dalam menggalang persahabatan dengan para veteran Belanda."

Hubungan bilateral Indonesia-Belanda

Menyinggung soal hubungan Indonesia dengan Belanda, Junus Effendi Habibie mengungkapkan, bahwa selain bidang politik, hubungan Indonesia-Belanda dalam bidang ekonomi dan perdagangan sungguh baik.

Di bidang perdagangan Indonesia mengalami surplus sekitar 2 miliar dollar AS. Inilah penuturan JE Habibie.

"Jadi kita lebih banyak menjual komoditi ke Belanda daripada kita membeli dari sini. Kedua, Belanda akan membangun sebanyak 150 ribu rumah di negerinya dengan memakai kayu Indonesia yang legal. Belanda akan mengimpor kayu Indonesia yang legal. Belanda juga membantu penghijauan dengan menanam pohon-pohon di Kalimantan. Belanda juga banyak membantu dengan air minum di kota Ambon, yang dibotolkan dengan harga yang murah, lebih murah dari di Jakarta.

Di dalam bidang pendidikan, kita melihat di Belanda ada sektar 1500 mahasiswa Indonesia, umumnya untuk program master dan PhD. Saya katakan masih kurang sebab, makin banyak mahasiswa Indonesia di sini, maka mereka nanti setelah pulang kembali ke Indonesia mereka menjadi duta-duta Belanda untuk Indonesia. Indonesia juga mengekspor (80%) kelapa sawit melalui pelabuhan Rotterdam. Di sini dulu kelapa sawit Indonesia itu ditentang, karena dianggap merusak lingkungan. Setelah saya undang ahli-ahi Belanda ke Indonesia, di mana akhir-akhir ini selain menebang, tetapi secara intensif juga menanam kelapa-kelapa sawit muda. Memang terhitung terlambat penanamam kembali kelapa sawit itu, tetapi kan tetap  lebih baik dari tidak menanam kembali.

Di bidang parawisata ada peningkatan. Khususnya Garuda bisa terbang lagi. Jumlah turis Belanda sudah mencapai 120 ribu yang akan ditingkatkan mendekati  200 ribu tahun 2011 ini."

Kunjungan Presiden SBY

Dengan ditundanya Kunjungan Kenegaraan Presiden SBY ke Negeri Belanda, maka Dokumen  Comprehensive Partnership Agreement antara Indonesia-Belanda yang sudah lama dipersiapkan jadi masih belum ditandatangani kedua belah pihak. Inilah kesaksian JE Habibie.

"Sebenarnya Presiden SBY sudah berada di bandar udara Soekarno-Hatta  telah siap untuk berangkat. Tetapi  pihak Belanda tidak bisa menjawab pertanyaan saya. Mereka memang bisa menjamin, bahwa Presiden Indonesia tidak bisa ditangkap. Tetapi adalah satu penghinaan oleh sekelompok anasir yang mengaku dirinya RMS dalam pembuangan membuat satu pengaduan dan diterima oleh Pengadilan Belanda bertepatan dengan hari kunjungan Presiden RI ke Belanda.

Jadi bertepatan dengan hari kedatangan Presiden SBY ke Belanda digelar sidang pengadilan atas Presiden Indonesia. Saya minta kepada pemerintah Belanda, tidak intervensi, tetapi kan bisa sidang pengadilan dimaksud diundur. Hal itu pun tidak bisa. Saya masih mengatakan, bahwa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono silakan datang, dan ada jaminan penuh dari pemeritah Belanda, bahwa tidak mungkin ditangkap. Tetapi Presiden SBY mengatakan, bahwa beliau tidak mungkin datang ke Belanda, karena proses pengadilan itu ditujukan terhadap dirinya sebagai Presiden RI dan hal itu merupakan penghinaan terhadap dirinya sebagai Presiden Indonesia dan merupakan  penghinaan terhadap Bangsa Indonesia. Jadi  kunjungannya ya kita tunda saja.

Mengenai Perjanjian comprehensive parthnership secara de jure belum ditandatangani tetapi secara de facto berjalan terus.

Dalam hubungan bilateral Indonesia-Belanda, saya yakin, tidak ada seorangpun bisa merusak. Hal ini mengandung arti yang dalam sekali. "Dalam hal ini, berusaha merusak itu bisa yang namanya Wilders, bisa yang namanya RMS, tetapi saya yakin mereka tidak akan bisa merusak hubungan baik Indonesia-Belanda," tegas JE Habibie. 

Pertemuan perpisahan dengan Ratu Beatrix

Pada tanggal 19 Januari Dubes JE Habibie akan diterima oleh Ratu Beatrix di Istana Kerajaan, sehubungan dengan selesai  masa tugasnya sebagai Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa  Penuh Republik Indonesia untuk Kerajaan Belanda.

"Pertama-tama saya ingin menyampaikan rasa terimakasih banyak atas perhatian Ratu terhadap Indonesia umumnya, dan khususnya terhadap keluarga saya. Sewaktu istri saya sakit, Ratu Beatrix sering menanyakan keadaan kesehatan istri saya. Jadi hal itu merupakan suatu perhatian Ratu terhadap saya dikala susah dan keluarga Kerajaan Belanda itu umumnya baik sekali  terhadap saya sekeluarga.

Khususnya, misalnya, Puteri  Margriet dalam acara upacara apa saja tidak mau berjabat tangan denga para tamu. Tetapi dalam resepsi diplomatik pada tanggal 2 Januari 2011 yang lalu dengan Duta Besar Republik Indonesia Junus  Effendi Habibie, Puteri Margriet berkenan bersalaman atau memberikan jabat tangannya. Dan ketika resepsi Puteri Margriet itu datang lagi kepada JE Habibie dan mengatakan: "Ambassadeur Habibie, we zullen je missen". Kalau ada apa-apa, lanjut Putri Margriet, kirimlah kabar kepada saya, telepon saya.

"Saya sangat berterimakasih kepada Putri Margriet atas perhatiannya dan saya juga mengatakan, jika Putri Margriet dan Tuan Pieter van Vollenhoven (suaminya)  mau ke Indonesia silakan, akan selalu kami terima dengan baik," ujar Fannie Habibie [yan]


Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA