Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI)

Pelayanan Haji Masih Perlu Ditingkatkan

Laporan: | Rabu, 23 Agustus 2017, 11:40 WIB
Pelayanan Haji Masih Perlu Ditingkatkan

Fadli Zon/Humas DPR

Wakil Ketua DPR, Fadli Zon memimpin  Tim Pengawas Persiapan Haji DPR RI melakukan tugasnya di Madinah.

Ada 19 anggota DPR yang ikut rombongan ntara lain dari Komisi 8, Komisi 9 dan Komisi 5.

Adapun yang menjadi obyek pengawasan antara lain soal pelayanan di bidang pemondokan, katering, transportasi, kesehatan dan masalah-masalah yang muncul dalam penyelenggaraan ibadah haji.

Tim memastikan pemerintah memberi pembinaan, pelayanan, dan perlindungan pada jamaah. Di samping itu mengumpulkan informasi dan masalah yang terjadi sekaligus jalan keluar untuk perbaikannya.

Di Madinah, Timwas melihat langsung kantor Daker, pemondokan dan tempat katering yang bermasalah.

Fadli memceritakan, salah satu dapur katering sempat menyajikan 6.400 paket makanan yang basi. Untunglah bisa dicegah oleh petugas haji sehingga akhirnya diganti.

"Kami mengunjungi dapur dan pengelola katering tersebut dan mengingatkan agar hal tersebut tak boleh terjadi lagi," ujar Fadli dalam keterangan tertulis yang diterima redaksi, Rabu (23/8).

Tim juga melihat langsung lokasi pemondokan yang kurang layak dan jauh dari Masjid Nabawi, kurang lebih 1200 meter.

Sementara ketika Di Mekkah, Timwas inspeksi mendadak ke Kantor Kesehatan Haji Indonesia (KKHI). Di sini banyak jamaah yang dirawat dari penyakit ringan seperti flu, batuk, pilek hingga penyakit berat (jantung, stroke, kanker dan lain-lain).

Ada unit gawat darurat, rawat inap, ICU hingga rawat gangguan kejiwaan. Tim dokter dan petugas kesehatan bekerja dengan baik walaupun tenaga media masih kurang.

Timwas mendapat masukan dari jamaah haji di beberapa maktab dalam pertemuan dadakan. Ada 15 kloter yang ditemui. Umumnya masukan-masukan untuk perbaikan haji.
"Ada yang mengeluh karena kejauhan, ada soal makanan yang kurang rasa Indonesianya, ada juga yang memberi masukan soal tas identitas jamaah haji yang berkualitas rendah, mudah robek dan jebol," urai wakil ketua umum Partai Gerindra itu.

Informasi yang mengagetkan adalah adanya praktik rentenir dalam penukaran uang Riyal. Setiap jamaah mendapat biaya hidup 1.500 reyal dalam pecahan 500. Ketika ditukarkan dengan pecahan kecil, mereka dipotong 80 Riyal.

"Ini praktik terjadi di embarkasi dan ada juga di bandara. Ini dilaporkan oleh banyak jamaah yang hadir dalam pertemuan dengan Timwas di pemondokan mereka di hotel Al Lu'lu'a Shisya, Aziziah. Ada tujuh kloter di hotel ini," terang Fadli.

Jamaah haji akan melakukan puncak ibadah ketika wukuf di Arafah, Musdalifah dan Mina. Di sini menurut dia, titik rawan karena semua jamaah haji seluruh dunia berkumpul di satu tempat pada saat bersamaan.[wid/***]
1xx

Kolom Komentar

Artikel Lainnya

Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI)