Pansus RUU Pemilu Minta Publik Tidak Sinis Soal Kunker Ke Jerman
Laporan: | Jumat, 03 Maret 2017, 01:30 WIB

Dalam waktu dekat, Panitia Khusus Rancangan Undang-Undang Pemilu akan terbang ke Jerman dan Meksiko melakukan kunjungan kerja dan studi banding.
Anggota Pansus RUU Pemilu Rambe Kamarul Zaman meminta masyarakat tidak sinis memandang rencana itu. Dia mengklaim bahwa kunker sangat penting dilakukan untuk menambah ilmu dalam penyusunan RUU Pemilu.
Dalam kunker, dewan akan mempelajari sistem pemilu dengan mengorek informasi langsung dari pihak-pihak berkompeten di Jerman dan Meksiko. Dewan akan belajar mulai dari sistem pemilihan electronic voting atau e-voting sampai mekanisme pelaksanaan pemilu serentak antara pemilihan presiden dan pemilihan anggota parlemen. Jerman dan Meksiko dipilih karena dewan menganggap sistem pemilu di dua negara itu sudah bagus.
"Jadi, kami juga ingin mencari tahu pasti bagaimana negara itu menggunakan e-voting. Jangan seperti e-KTP kemarin yang katanya oke-oke semua tapi ternyata kacau balau," jelas Rambe di Gedung DPR, Jakarta, Kamis (2/3).
Politisi senior Partai Golkar itu pun memastikan bahwa kunker bukan dimaksud untuk jalan-jalan atau sekadar menghabiskan anggaran. Kunker diharapkan memberi banyak masukan penting bagi Pansus untuk membahas aturan RUU Pemilu yang saat ini sedang dibahas.
"Makanya, kami lihat nanti bagaimana (pelaksanaan Pemilu) di Meksiko dan Jerman," ujar Rambe.
Menurutnya, kunker juga sangat berguna untuk mempererat hubungan diplomatik parlemen di kedua negara tersebut. Jadi, yang dilakukan dewan bukan hanya studi banding melainkan juga diplomasi parlemen. Rambe merasa tidak ada masalah apapun terkait rencana kunker. Sebab, semua prosedur sudah diajukan pimpinan Pansus.
"Kami dari Fraksi Golkar, kalau memang sesuai prosedur semua ya jalan. Jadi tidak ada salahnya juga. Fraksi lain juga tidak perlu grogi. Kita ke sana kan pakai dana yang sah. Toh ini untuk memperbandingkan, cari data masukan," bebernya.
Rambe meminta fraksi lain ikut menjelaskan ke publik bahwa kunker ke luar negeri merupakan hal yang wajar sehingga tidak perlu sampai menjadi polemik di masyarakat.
"Ini yang harus diluruskan bahwa kunker bukan mau jalan-jalan. Inti masalahnya yang kita ingin tahu. Kami juga nggak berlama-lama. Intinya, kan kita ingin tujuan RUU Pemilu bahwa salah satunya ingin memperkuat sistem kita presidensial," jelasnya.
Fraksi Golkar sendiri berkeinginan agar sistem pemilu di Indonesia disederhananakan. Sistem pemilu di Meksiko dan Jerman diharapkan bisa menambah pengetahuan anggota Pansus sebelum membahas lebih dalam RUU Pemilu.
"Seperti di Meksiko, mereka multi partai tapi ada batasannya tidak, kami ingin sederhana tapi moderat. Partai boleh lebih dari empat atau lima dan seterusnya, tapi bagaimana menyederhanakannya. Kami juga tidak minta anggaran ke sana kemari," demikian Rambe.
[wah]