Akom Nunggu Sinyal Ical
Harian Rakyat Merdeka | Kamis, 24 November 2016, 08:41 WIB

Ketua DPR Ade Komarudin akhirnya bicara soal rencana Partai Golkar menempatkan kembali Setya Novanto menjadi ketua DPR. Namun, dia enggan terburu-buru bicara blak-blakan. Pria yang akrab disapa Akom ini sepertinya menunggu sinyal dari para senior dan tokoh beringin, salah satunya mantan Ketum Golkar Aburizal Bakrie (Ical).
Pasti (komunikasi dengan Ical), dia senior saya. "Ketua Dewan Pembina dan saya Wakil Ketua Dewan Pembina, alangkah tidak elok saya tidak bicara dengan beliau," ujar Akom di Gedung DPR, kemarin.
Akom mengaku belum mengetahui sikap Ical atas peristiwa ini. Dia pun berencana bertemu dengan Ical terlebih dahulu untuk konsultasi permasalahan ini, Jumat (25/11). Soalnya, kemarin, Ical dijadwalkan baru pulang ke Tanah Air setelah berpergian dari luar negeri. "Saya belum dengar kabarnya, beliau masih di luar negeri kembali besok (hari ini). Jadi akan berkomunikasi dengan Pak Ical, senior saya," katanya.
Akom mengaku sudah mengetahui rencana pergantian jabatan Ketua DPR dari dirinya ke Ketum Partai Golkar Setya Novanto. Adalah Ketua Harian Golkar, Nurdin Halid yang langsung menemuinya ihwal rencana itu. Namun, Akom sepertinya perlu waktu menanggapi rencana itu. Selain perlu berkomunikasi dengan petinggi dan tokoh beringin, dia juga perlu konsultasi dengan pihak keluarga, serta melakukan istikharah (Shalat meminta petunjuk Allah). "Resminya bagaimana nanti saya pelajari untuk dikonsultasikan," ucapnya.
Tidak hanya belum bersikap atas peristiwa ini, Akom juga mengaku baru mendapatkan informasi secara lisan dari jajaran DPP Partai Golkar. Artinya, dia belum melihat surat resmi keputusan itu hingga, kemarin. Setelah melihat surat resmi, dia akan mempelajarinya terlebih dahulu. Akom juga enggan berandai-andai terkait posisinya jika jadi dilakukan. "Kalau sudah lihat suratnya, saya akan berikan penjelasan. Mengabdi kepada negara ini kan tidak harus ketua DPR saja, banyak," katanya.
Akom mengaku tidak mengkhawatirkan perubahan posisi jabatan di DPR apakah menjabat sebagai ketua atau tidak. Dia bercerita, sudah terlalu lama dirinya menjadi anggota DPR, sejak 1997. Bahkan, dia juga menyampaikan tidak akan mencalonkan kembali sebagai anggota DPR di Pemilu 2019. "Saya ini pengabdian terakhir sebagai anggota DPR. Saya sudah sampaikan 2019 saya tidak mencalonkan lagi. Jadi plong hati dan pikiran saya. Nggak disuruh pun saya begitu. Saya tidak punya agenda lagi di DPR kecuali menjalankan tugas yang ada, menuntaskan sampai keanggotaan 2019," pungkasnya.
Sebelumnya, DPP Partai Golkar melalui rapat pleno yang digelar 8 November memutuskan Novanto dikembalikan menjadi Ketua DPR. Ketua Harian Nurdin Halid mengatakan, keputusan ini diambil dengan mengacu pada putusan Mahkamah Konstitusi terkait kasus "Papa Minta Saham" yang sempat menyeret nama Novanto. ***