Terpilih Jadi Ketum SNKI, Fadli Zon Bertekad Perkuat Keris Indonesia
Laporan: Yayan Sopyani Al Hadi | Minggu, 13 November 2016, 12:40 WIB

Wakil Ketua DPR RI Fadli Zon terpilih menjadi Ketua Umum Sekretariat Nasional Keris Indonesia (SNKI) dalam Kongres SNKI ke-2 yang berlangsung di Gedung Sungging Prabangkara, Kampus Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta (Sabtu, 12/11).
Fadli terpilih secara aklamasi menggantikan mantan Menteri Tenaga Kerja Erman Suparno.
Fadli, yang bergelar Kanjeng Pangeran Kusumo Hadiningrat, akan memimpin organisasi yang menghimpun paguyuban dan pelaku budaya perkerisan itu untuk periode 2016-2021. Dalam kongres ini hadir 156 organisasi paguyuban keris se-Indonesia dan para empu, pengrajin, kolektor dan sesepuh dunia perkerisan.
Dalam kongres yang dihadiri oleh ratusan delegasi paguyuban, empu, kolektor, dan pelaku budaya perkerisan lainnya yang berasal dari seluruh Indonesia itu, Fadli, yang telah tertarik dan mengkoleksi keris sejak zaman mahasiswa, menyatakan bahwa keterlibatannya dalam SNKI adalah bentuk pengabdian. Sebab SNKI adalah organisasi yang penting dalam merawat dan mengembangkan kebudayaan perkerisan.
"Selain batik, atau wayang, keris adalah warisan kebudayaan Nusantara yang telah diakui dunia. Budaya ini harus dilestarikan. Budaya adalah elemen penting pembentukan karakter, sekaligus menjadi identitas yang membedakan satu komunitas atau bangsa dari komunitas dan bangsa lainnya. Tanpa budaya, orang jadi tidak memiliki identitas. Itu sebabnya kita harus melestarikan dan mengembangkan kebudayaan, termasuk keris ini," kata Fadli.
Sebagai Ketua Umum SNKI yang baru, Fadli dalam sambutannya menyampaikan juga sejumlah rencananya untuk memperkuat organisasi SNKI serta melestarikan budaya perkerisan. Apalagi saat ini keris telah menjadi salah satu cinderamata kenegaraan dalam kegiatan diplomasi Indonesia.
"Keris juga sudah menjadi bagian dari ekonomi kreatif. Ke depan, kita harus makin mendorong kajian keilmuan atas budaya perkerisan, agar budaya keris ini bisa menjadi ilmu pengetahuan yang dapat dipelajari oleh anak-anak di bangku sekolah. Tanpa kajian keilmuan, kebudayaan bisa mati, karena hanya akan dianggap sebagai artefak belaka," jelasnya.
Sebagai bagian dari ekonomi kreatif, Fadli menyampaikan jika keris tak berbeda jauh dengan benda seni bernilai tinggi lainnya. Keris ini mirip lukisan. Keris bisa punya ‘story’ dan juga ‘history’, yang membuatnya bisa bernilai sangat tinggi. Namun kadang terjadi ‘moral hazard’.
"Karenanya, seperti halnya lukisan, keris juga perlu mendapatkan kurasi dan sertifikasi, untuk melindungi para penggemar keris. Di situ SNKI bisa berperan memberikan supervisi,†demikian Fadli.
[ysa]