DPR: Cabut Status RSBI SMU 6 dan SMU 70
Laporan: | Rabu, 26 September 2012, 19:24 WIB

Tawuran antar pelajar SMU 6 dengan SMU 70 yang menewaskan seorang pelajar, Senin (24/9) lalu dinilai sebagai kegagalan sistem pendidikan di Indonesia. Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) di kedua sekolah tersebut pantas dicopot. Pasalnya, sertifikasi tersebut tidak bebanding lurus dengan mutu para pengajarnya.
"Copot saja label RSBI, kita jadikan reguler saja dua sekolah ini. Ini jelas adalah kegagalan sistem politik pendidikan di Indonesia. Buat apa RSBI tersebut kalau nyatanya seperti ini. Sertifikasi ini tidak berbanding lurus dengan mutu pengajar sepertinya,†ujar Anggota Komisi X DPR, Dedi Gumelar di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (26/9).
Aksi kekerasan antara pelajar yang menewaskan satu pelajar dari SMU 6 ini, menunjukkan kegagalan sistem pendidikan Indonesia yang hanya mengendepankan kecerdasan kognitif, namun mengsampingkan akhlak para pelajarnya.
"Tidak bisa seperti itu. Harus ada keseimbangan antara jiwa dan otak. Saya pikir ini momentum yang sangat baik untuk mengubah sistem pendidikan yang ada saat ini," paparnya.
Politisi PDI Perjuangan itu juga tak habis pikir SMU 6 dan SMU 70 yang notabene sebagai sekolah favorit mengeluhkan kekurangan kegiatan ekstrkulikuler bagi siswa-siswanya.
"Kembalikan pendidikan yang berbasis kebudayaan termasuk ekstrakurikuler di sekolah. Masa sekolah favorite mengeluhkan kekurangan kegiatan bagi siswa-nya. Selain itu juga seimbangkan masalah akhlak. Bina juga akhlak siswa-siswa itu. Apa pernah dengar madrasah tawuran? Tidak. Karena akhlaknya di bina juga†keluh Miing.
Pria yang akrab disapa Miing ini juga menyayangkan komentar salah satu Kepala Sekolah yang mengatakan aksi kekerasan tersebut bukanlah tanggung jawab sekolah.
"Itu kan terjadinya masih di daerah sekolah. Kecuali terjadi-nya di Tanjung Priok, baru bisa dikatakan bukan tanggung jawab kami," pukas dia.
[dem]