ilustrasi, Beras
Ketua Komisi IV DPR RoÂmaÂhurmuziy mengatakan, berÂdaÂsarkan data BPS per Agustus 2011 Indonesia sudah surplus beras sebesar 13.028.169.100 kg atau sekitar 13 juta ton.
Jika asumsi produksi beras adalah 60 persen dari produksi gabah dan konsumsi hanya 113 kg per kapita per tahun, artinya target surplus beras sebesar 10 juta ton sudah tidak diperÂlukan lagi. Tapi faktanya, IndoÂnesia justru masih mengÂimpor beras dari Thailand, VietÂnam maupun India.
“Terjadi ketidaksinkronan daÂta produksi dan konsumsi yang diÂmiliki masing-masing stakeÂholÂder pengambil keputusan deÂngan kebijakan perberasan naÂsional. Kami minta dilakukan audit,†tutur Romahurmuziy.
Menurut pria yang akrab diÂsapa Romi ini, kelemahan data yang ada sekarang belum dapat mereÂpresentasikan data perÂbeÂrasan secara nasional. Belum laÂgi persoalan metode dalam peÂngamÂbilan jumlah ubinan saÂwah yang menjadi sampel masih perlu diÂtelusuri lebih lanjut.
“Data luas lahan pertanian yang dikeluarkan pemerintah maÂsih harus dikaji ulang. PeÂmetaan konÂdisi perberasan naÂsional meÂrupakan hal yang mutÂlak dilaÂkukan,†imbuhnya.
Untuk itu, anggota Fraksi PPP ini mengimbau pemerintah meÂngÂutamakan pengadaan beras dalam negeri dibanding melaÂkuÂkan impor. Seluruhnya bisa dilaÂkukan, asalkan perluasan areal dan pengelolaan lahan, peningÂkatan produktivitas dan penyemÂpurnaan manajemen dilakukan dengan baik.
“Minggu depan kami akan meÂlakukan rapat kerja dengan MenÂteri Pertanian untuk memuÂtusÂkan finalisasi anggaran tahun 2012. Termasuk audit produksi yang mungkin akan dilaksanakan agar tidak terjadi kesimÂpangÂsiuran soal data,†ungkap Romi.
Mengenai mekanisme pelakÂsanaan audit produksi sepeÂnuhÂnya diserahkan kepada KeÂmenÂterian Pertanian. Tujuan utamaÂnya unÂtuk menghitung berapa proÂÂduksi padi petani, apakah terÂlalu under estiÂmate atau over estimate.
Hal yang sama diungkapkan Ketua Kontak Tani Nasional Andalan (KTNA) Winarno. Ia menyatakan, ada kejanggalan data BPS atas produksi beras. MeÂnurutÂnya, dari data itu bisa menentukan kebijakan impor dan ekspor.
“Terjadi ketidaksinkronan terÂhaÂdap data-data yang selama ini ada. Datanya harus direvisi seÂhingga lebih akurat,†imbuhnya.
Winarno menjelaskan, sampai semester I-2011, data BPS selalu menunjukkan produksi beras surÂplus 4 juta ton. Namun, mengapa imÂpor makin kencang dilakuÂkan pemerintah. “Kalau surplus seÂgitu kita tidak harus impor kan. SeÂbenarnya kita bisa swasemÂbaÂda, berarti ada yang salah,†jelasnya.
Menanggapi itu, Deputi StaÂtistik Produksi BPS Sihar Tobing mengatakan, ada banyak faktor yang mempengaruhi akurasi produksi data padi dan beras.
Misalnya, faktor data luas baÂku lahan sawah yang diguÂnaÂkan unÂtuk memperkirakan luas paÂnen, angÂka konversi yang diguÂnaÂkan daÂlam penghitungan proÂduksi paÂdi maupun beras.
BeÂlum lagi pengÂgunaan gabah dan beras unÂtuk non pangan (bÂibit/benih, paÂkan ternak, bahan baku industri non pangan) terÂmaÂsuk adanya suÂsut padi mauÂpun beras dalam proÂses pengÂangÂkutan dan penyimpanan.
“Sebelum penyajian data dilaÂkuÂkan rekonsiliasi data setiap sub round. Angka produksi buÂkan hasil BPS semata, tapi kerja sama dengan Kementerian PerÂtanian,†kilah Sihar.
Sihar beralasan, data produksi padi yang diperoleh dari lapangÂan melalui laporan dan survei ubinan adalah kualitas gabah keÂring paÂnen (GKP). Sedangkan daÂta proÂduksi padi yang disajiÂkan dalam publikasi adalah kuaÂlitas gabah kering giling (GKG).
“Data produksi yang digunaÂkan dalam kebijakan pangan adaÂlah produksi beras,†jelasnya.
Meski begitu, ke depan BPS berÂsama Kementerian Pertanian akan terus berupaya menyemÂpurÂÂnaÂkan penghitungan produksi mulai dari GKP, GKG hingga beras.
“Kami tetap mengusahakan cara penghitungan produksi perÂtanian yang tepat untuk diguÂnaÂkan secara nasional. PemeÂrintah menugaskan BPS sebagai koorÂdinator,†tandasnya. [rm]