logo pajak
RMOL. Komisi XI DPR meminta DiÂrektorat Jenderal (Ditjen) Pajak menggunakan anggaran sensus pajak nasional (SPN) sebesar Rp 226 miliar untuk mengopÂtiÂmalÂkan penerimaan pajak. Sebab, angÂggaran tersebut bukanlah jumlah yang sedikit.
“Saya sangat setuju dengan sensus perpajakan nasional yang berkaitan penerimaan pajak. TaÂpi saya lihat dari sisi efisiensi peÂtugas masih kurang, paling tidak harus ada target yang ingin dicaÂpai,†ujar anggota Komisi XI DPR Sadar Subagyo saat Rapat DeÂngar PenÂdaÂpat (RDP) bersama Ditjen Pajak membahas Rencana Kerja AngÂgarÂan Kementerian/Lembaga, kemarin.
Hal senada dikatakan angÂgota Komisi XI DPR dari Fraksi PDIP Dolfie. Menurutnya, beÂsarÂnya anggaran yang dikeluarÂkan sehaÂrusÂnya mampu meÂningÂkatkan opÂtimalisasi peneÂrimaan pajak taÂhun depan.
Untuk itu, Dolfie meminta Dirjen Pajak Fuad Rahmany secara berkala menyamÂpaiÂkan detail realisasi penerimaan pajak selama 4 tahun terakhir dengan jumlah SPT yang terÂtagih.
“Kalau dianggarkan segitu besar, tambahan penerimaan paÂjak yang diperoleh minimal haÂrus Rp 226 miliar supaya nggak teÂkor,†pintanya.
Anggota Komisi XI DPR Indah Kurnia ikutan berÂkoÂmenÂtar. “Saya nggak bisa bilang angÂgaran sebesar itu realistis atau tidak, selama ada perincian angÂgaran tersebut untuk keperluan apa. Selain persoalan budgeting tugas kita juga melakukan peÂngaÂÂwasan,†tegasnya.
Indah mengimbau, selain beruÂpaya melakukan terobosan untuk mendapatkan optimalisasi peneÂrimaan pajak, Ditjen Pajak harus berupaya menjaga kebocoran aliran dana pajak.
Indah juga menyoroti perÂsoÂalan mekanisme sensus pajak yang dilakukan Ditjen Pajak. Dia melihat, masih banyak petugas sensus pajak yang tidak mengÂguÂnakan tanda pengenal. MeÂnuÂrutnya, ini akan menimbulkan keÂengganan para wajib pajak yang akan menyetorkan uangnya.
â€Saya melihat dari sisi peÂlakÂsanaan masih ada celah yang berÂhubungan dengan keÂseÂlaÂmatÂan wajib pajak, pengamanan yang kurang dari petugas pajak justru potensi yang membaÂhayakan,†jelasnya.
Menanggapi itu, Direktur JenÂderal Pajak Fuad Rahmany meÂnegaskan, pihaknya terus beruÂpaya melakukan efisiensi dalam setiap kegiatan SPN.
“Saat melakukan sensus, kami sudah memberikan sosialisasi terlebih dahulu, itu yang biasa diÂlakukan selama ini. Hanya daÂlam praktiknya selalu tidak seÂsuai, tetap banyak yang mangÂkir, paÂdahal kita sudah persiapÂkan baÂgaimana menghadapi d ilaÂpangan supaya anggarannya lebih efiÂsien,†ujar Fuad. [rm]