Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI)

Marzuki Alie Terpilih Jadi Presiden Parlemen Se-ASEAN

Laporan: | Jumat, 23 September 2011, 12:46 WIB
Marzuki Alie Terpilih Jadi Presiden Parlemen Se-ASEAN

marzuki alie/ist

RMOL. Ketua DPR RI Marzuki Alie baru saja terpilih menjadi Presiden Asean Inter Parliamentary Assembly (AIPA) untuk kurun waktu satu tahun. Di sisi lain, Presiden SBY juga sudah menjadi Ketua ASEAN.

Hal ini, kata Marzuki Alie, akan semakin meneguhkan komitmen Indonesia untuk menjadikan ASEAN sebagai jangkar hubungan regional utama. Marzuki juga menegaskan bahwa AIPA akan berkomitmen memajukan kesejahteraan masyarakat ASEAN sebagaimana yang juga tercantum dalam tema sidang umum AIPA ke-32 di Phnom Penh, Kamboja.

"Oleh karena itu, berbagai tantangan harus dihadapi bersama demi mewujudkan integritas ASEAN dengan tiga pilarnya yaitu: security community, economic community, dan socio-cultural community. Dalam hal ini AIPA perlu ikut serta mendorong ASEAN dalam memperkuat solidaritas dalam memainkan peran yang lebih besar dalam komunitas global untuk penanganan isu-isu global," kata Marzuki Alie dalam pidato penutupan AIPA di Champei, Peace Palace, Phnom Penh, Kamboja (Jumat, 23/9).

Dalam kesempatan ini Marzuki juga mengatakan bahwa Indonesia berharap semua stakeholders ASEAN  terlibat dalam hubungan antar-masyarakat sebagai perwujudan ASEAN untuk menjadi people centered-organization dan upaya menciptakan lingkungan yang memberikan benefit bagi masyarakat.

"Indonesia juga mengharapkan, ke depan bahwa ASEAN dapat terus memperjuangkan kemajuan dan peningkatan HAM, good governance dan demokrasi di kawasan, serta memperkecil kesenjangan kemakmuran antar-negara ASEAN. Hal ini kiranya dapat menjadi fokus utama bagi AIPA di masa datang," tambah Marzuki.

Marzuki juga menyampaikan bahwa Indonesia akan menjadi tuan rumah sidang umum AIPA yang ke-33 yang rencananya akan dilaksanakan pada 16-23 September 2012 di Lombok, Nusa Tenggara Barat. Sebagai tuan rumah, Indonesia mengharapkan sidang akan berlangsung dengan sukses dan aman dengan partisipasi penuh dari seluruh anggota AIPA dan observer.

"DPR-RI dan seluruh rakyat Indonesia sangat berharap bahwa kehadiran delegasi akan membawa suasana kebersamaan yang lebih baik sekaligus Indonesia akan menyuguhkan keramahtamahan dan keberagaman potensi budaya Indonesia," tambahnya sambil menyampaikan rasa penghargaannya terhadap tuan rumah Kamboja yang benar-benar telah bekerja keras demi mensukseskan sidang AIPA ke 32 baik secara teknis maupun non teknis.

Sebelumnya, komisi-komisi yang bekerja dalam AIPA seperti komisi politik dan keamanan, komisi ekonomi dan sosial juga telah memberikan laporannya yang akan dijadikan resolusi untuk diratifikasi oleh seluruh negara-negara anggota. Komisi politik dan keamanan misalnya, menghasilkan tiga resolusi. Yaitu memperkuat komunitas keamanan dan integrasi keamanan diantara negara anggota; setiap anggota AIPA akan menjadi tenaga pendorong dan sekaligus akan mendorong pemerintahan di negara masing-masing; serta membangun rasa kepercayaan dan kebersamaan untuk terus membangun konsolidasi diantara negara-negara anggota.

Untuk masalah ekonomi, disepakati dua resolusi. Yaitu mempromosikan pertumbuhan ekonomi oleh negara-negara anggota dan memperkecil kesenjangan ekonomi di antara negara-negara anggota serta mempertahankan pertumbuhan ekonomi yang stabil serta menjadi inklusifitas untuk pemerintahan yang baik. Selain itu, upaya saling mendukung juga terus dilakukan dengan negara-negara anggota ASEAN maupun mitra-mitra ASEAN lainnya.

Dukungan kerjasama di bidang ekonomi itu bisa dilakukan misalnya dengan alih teknologi, masalah keuangan, pemberian asistensi teknis di berbagai bidang, termasuk kaitan dengan perubahan iklim dan makin berkurangnya sumber daya alam.

Untuk masalah sosial dan kesejahteraan rakyat, AIPA akan mendukung pemerintahan negara-negara ASEAN untuk memperkuat masalah penegakan hukum dalam melawan perdagangan narkoba dan manusia. Kedua hal itu disadari akibat kurangnya penegakkan hukum dan ketidakadilan ekonomi.

Khusus untuk perdagangan manusia seringkali korban dilihat sebagai orang yang melanggar aturan dan bukan dilihat sebagai korban. Untuk itu AIPA akan mendorong ASEAN untuk dapat memberantas para pelaku sebenarnya dari penjualan manusia. AIPA juga akan mendorong peningkatan mutu pendidikan, karena biasanya anak-anak maupun perempuan yang menjadi korban dari perdagangan manusia selain disebabkan karena faktor ekonomi juga karena pendidikan yang rendah.

AIPA juga akan mendorong peremajaan mekanisme yang jelas atas nasib para pekerja migrant dan membentuk kelompok ad hoc untuk mengawasi dan mencari dukungan dari organisasi internasional, akademisi maupun lembaga swadaya masyarakat yang konsen terhadap nasbi para buruh migran. Semuanya itu diharapkan dapat diratifikasi oleh semua parlemen Negara-negara anggota untuk secepatnya dijadikan UU. [ysa]
1xx

Kolom Komentar

Artikel Lainnya

Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI)