Marzuki Alie Perjuangkan Bahasa Indonesia Jadi Bahasa Pendamping di Pertemuan Parlemen ASEAN
Laporan: | Selasa, 20 September 2011, 14:13 WIB
RMOL. Ketua DPR Marzuki Alie berharap Bahasa Indonesia, Malaysia atau Melayu digunakan sebagai bahasa pendamping dalam pertemuan sidang-sidang Asean Inter Parliamentary Assembly pada masa mendatang.
Harapan itu disampaikan Marzuki saat menjadi pembicara
sebagai Ketua Delegasi Indonesia dalam sidang AIPA ke-32 yang dilaksanakan di Phnom Penh, Kamboja hari ini. Marzuki menjelaskan pihaknya akan melakukan segala upaya untuk memperjuangkan harapan tersebut.
"Wajar hal itu kita perjuangkan karena Bahasa Indonesia, Malaysia dan Melayu adalah bahasa yang terbanyak digunakan di kawasan ASEAN," kata Marzuki, lewat keterangan pers yang diterima
Rakyat Merdeka Online siang ini.
Bahasa Indonesia adalah bahasa modern yang telah melalui beberapa sinkronisasi sejak pertama terkenal sebagai bahasa resmi Republik Indonesia pada tahun 1945. Bahasa Indonesia adalah bahasa yang paling banyak digunakan keenam di dunia setelah Mandarin, Inggris, Hindi, Spanyol dan Arab. Itulah sebab kenapa dia mempromosikan bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi dalam AIPA.
"Untuk itu sekiranya dapat dipertimbangkan agar Bahasa Indonesia dapat menjadi salah satu bahasa kerja dalam AIPA.," ujarnya.
Indonesia, tambahnya, sebagai negara yang terbesar di ASEAN dan komunitas terbesar juga di ASEAN serta dengan mempertimbangkan bahwa bahasa Indonesia digunakan di mayoritas Negara seperti Indonesia, Malaysia, Brunai Darusalam sebagaian Singapura, Vietnam dan Kamboja maka alangkah baiknya bahasa Indonesia, Malaysia dan melayau jadi bahasa pendamping. Ini keniscayaan demokrasi.
Indonesia sendiri menurutnya sangat menghargai nilai-nilai bahwa demokrasi dibangun berdasarkan kearifan lokal, sehingga wajar jika Indonesia berpendapat harus ada satu bahasa yang bisa mempersatukan semua warga ASEAN.
"Secara emosional akan lebih mudah menggunakan bahasa Indonesia bagi komunitas ASEAN. Selain itu di luar negeri seperti Australlia, Afrika Selatan dan Arab Saudi pun sudah diberikan pelajaran bahasa Indonesia. Kita juga merupakan salah satu pasar terbesar sehingga wajar kita meminta agar bahwa ini bisa dijadikan bahasa resmi," imbuhnya.
[zul]