Krisis Nuklir Jepang dan Masa Depan Pemanfaatan Energi Nuklir
| Sabtu, 02 April 2011, 10:37 WIB

Gempa besar bermagnitude 9,0 yang melanda Jepang dan disusul oleh tsunami setinggi 14 meter yang terjadi pada 11 Maret lalu, telah menghancurkan kawasan pantai timur laut dan menelan begitu banyak korban jiwa. Sampai saat ini, jumlah korban yang dikonfirmasi tewas dan dinyatakan hilang akibat bencana tersebut telah mencapai 28.000 orang. Ratusan ribu orang telah mengungsi dari rumah mereka dan tinggal di fasilitas darurat.
Gempa tersebut merupakan bencana alam paling mematikan di Jepang setelah Gempa Bumi Besar Kanto pada 1923 yang menewaskan lebih dari 142.000. Tidak berhenti di situ, Jepang juga menghadapi persoalan besar pasca gempa yang lebih menakutkan dan menarik perhatian masyarakat internasional, yaitu ketakutan akan ancaman bencana nuklir reaktor Fukushima Daiichi yang terletak sekitar 230 kilometer dari Tokyo.
Gempa besar dan tsunami telah merusak sistem pendingin dari enam reaktor di PLTN Fukushima Daiichi, memicu ledakan dan kebakaran, menyebarkan radiasi, dan ketakutan global mengenai bencana, meluas. Plutonium telah terdeteksi di dalam tanah di fasilitas yang terletak di timur laut Tokyo itu dan air yang sangat terkontaminasi telah bocor dari sebuah bangunan reaktor. Bahkan beberapa negara Eropa, Asia dan Amerika menyatakan telah mendeteksi radiasi nuklir di kawasan mereka meskipun belum mencapai tingkat yang mengancam keselamatan manusia.
Pemerintah Jepang telah melakukan berbagai upaya untuk memulihkan reaktor PLTN tersebut. Akan tetapi, karena adanya kekhawatiran soal radiasi justru mengganggu upaya mereka. Pemerintah Jepang menyatakan bahwa mereka dalam keadaan siaga penuh menghadapi krisis nuklir di PLTN Fukushima. Sikap ini diambil karena situasi berkembang tak terduga. Merespon keadaan yang berkembang, Tokyo Electric Power (Tepco), operator pembangkit listrik tenaga nuklir Fukushima juga telah meminta bantuan dari Perancis antara lain dari perusahaan energi raksasa EDF (Electricite de France), kelompok nuklir Areva, dan badan tenaga atom Perancis CEA untuk mengatasi krisis tersebut.
Krisis nuklir Jepang menimbulkan beragam respon dari masyarakat internasional berkaitan dengan pemanfaatan energi nuklir. Di Taiwan misalnya, pemerintah mendapatkan tekanan untuk menghentikan operasi tiga pembangkit listrik tenaga nuklirnya yang memasok 20% pasokan listrik dan menghentikan pembangunan PLTN keempat. Namun demikian, pemerintah Taiwan menyatakan tidak mungkin menghentikan operasi PLTN-nya atau membatalkan fasilitas nuklir baru, meskipun berkembang kekhawatiran akibat krisis nuklir Jepang. Bagi Taiwan, tenaga nuklir tetap merupakan sumber energi alternatif yang diperlukan untuk beberapa dasawarsa ke depan. Sementara itu, negara-negara di Eropa melakukan pemeriksaan terhadap reaktor nuklir mereka. Otoritas Jerman memerintahkan penghentian pengerjaan reaktor ke tujuh dari 17 lainnya yang mereka miliki untuk pemeriksaan keamanan.
Pemanfaatan energi nuklir sebenarnya sedang mengalami kebangkitan dalam beberapa tahun terakhir. Perhatian terhadap persoalan dampak pembakaran hydrocarbons terhadap perubahan iklim global, dan keterbatasan cadangan minyak dan gas bumi sebagai sumber energi masa depan, telah mendorong suatu upaya baru untuk menemukan sumber energi alternatif. Meskipun berbagai pihak telah meningkatkan upaya pengembangan teknologi yang dapat menghasilkan sumber energi yang terbarukan, seperti tenaga matahari atau tenaga angin, tenaga nuklir telah dimanfaatkan selama beberapa dekade untuk menghasilkan listrik, perawatan dan diagnosa medis, dan desalinasi. Akibatnya, dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah negara menunjukkan kembalinya keinginan mereka untuk memanfaatkan tenaga nuklir untuk tujuan-tujuan damai.
Beberapa negara berupaya mengembangkan infrastruktur nuklir yang sudah mereka miliki, sementara beberapa negara lainnya baru pertama kalinya memanfaatkan nuklir untuk tujuan komersil. Jepang sendiri, sebagai satu-satunya negara yang pernah merasakan dampak terburuk teknologi nuklir, justru merupakan salah satu negara yang paling ekspansif memanfaatkan energi nuklir dengan menggantungkan 30% pasokan listriknya kepada PLTN. Jepang memiliki 54 PLTN, jumlah terbanyak setelah Amerika (104 reaktor) dan Perancis (58 reaktor).
Belajar dari krisis nuklir Jepang dan mengingat bahwa sebagian besar daratan Indonesia merupakan kawasan rawan gempa, maka pemerintah Indonesia harus sangat berhati-hati dengan rencana pembangunan PLTN. Upaya untuk menjamin ketersediaan sumber energi bagi masyarakat jangan sampai mengabaikan kewajiban negara untuk menjamin keselamatan warganya. Sekalipun pemanfaatan energi nuklir mengandung berbagai resiko buruk, teknologi nuklir juga terus mengalami perkembangan untuk meminimalisir resiko-resiko tersebut. Penyempurnaan teknologi nuklir dilakukan guna mengoreksi kesalahan-kesalahan yang mungkin dilakukan manusia, sehingga diperlukan SDM terbaik untuk mengelola teknologi yang penuh resiko ini.
Yang perlu dilakukan pemerintah Indonesia adalah untuk terus mengamati perkembangan teknologi nuklir yang aman dan berupaya untuk menguasainya, serta mempersiapkan SDM terbaik, sehingga jika tiba waktunya nanti Indonesia dapat memanfaatkan energi nuklir untuk memenuhi kebutuhan energi tanpa mengancam keselamatan warganya.