Ketua DPR Ajak Seluruh Komponen Bangsa Teladani Nabi Muhammad SAW
Laporan: Dede Zaki Mubarok | Rabu, 16 Februari 2011, 23:14 WIB
RMOL. Banyak orang yang bertanya-tanya ketika menemukan fakta orang beribadah, tapi kenapa begitu mudahnya mengatasnamakan agama dalam memfitnah, menghujat, dan bahkan melakukan aksi anarkis.
Selain itu juga, ada orang yang bertanya, kenapa ada seseorang yang tampilan sehari-harinya terlihat rajin beribadah, seperti shalat, berpuasa, bersedekah, tapi maling atau korupsi masih jalan terus.
"Pasti ada sesuatu yang hilang dari bangsa yang mayoritas beragama Islam ini," simpul Ketua DPR RI Marzuki Ali, dalam acara peringatan Maulid Nabi besar Muhammad SAW di Pondok Pesantren Darul Falah, di Warung Kondang, Cianjur Jawa Barat, Senin kemarin.
Karena itu, ia mengajak seluruh komponen anak bangsa terutama umat Islam, yang setiap saat mengucapkan syahadat dan mengaku sebagai umat Nabi Muhammad SAW agar terus berupaya meneladaninya.
Marzuki mengingatkan Rasulullah pada masanya juga hidup berdampingan dengan masyarakat yang berbeda keyakinan. Ia tidak pernah memaksakan kehendak apalagi mengedepankan anarkisme, tetapi lebih menunjukkan keteladanan yang pada akhirnya mengundang simpati.
Untuk mengarah kesitu, ia memandang perlu pembenahan dalam pendidikan. Ketika anak diajarkan shalat, berpuasa hendaknya dibangunkan pula pemahaman kenapa dia harus melaksanakan ibadah itu. Anak perlu dilatih beribadah dengan ikhlas, menyadari Allah SWT selalu mengawasi dan malaikat terus mendampingi.
Ketua DPR juga menyoroti fenomena menjamurnya sekolah berbasis agama yang diharapkan dapat membantu generasi muda dalam mengimplementasikan agama dalam kehidupan sehari-hari.
Momentum Maulid Nabi Muhammad SAW ini hendaknya dimanfaatkan untuk benar-benar mengingat kembali bagaimana sikapnya dalam memimpin, berkata-kata dan contoh lainnya. Umat jangan terjebak dalam kegiatan ritual semata, makan nasi kebuli, atraksi budaya, atau sekadar mengikuti keramaian pada saat maulid.
Peringatan Maulid Nabi Muhammad di Ponpes Darul Falah Cianjur mendapat perhatian ratusan jamaah. Turut hadir pada acara tersebut, ketua DPRD Cianjur, Gatot Subroto serta jajaran Muspida.
Ketua DPR juga mengingatkan, Indonesia saat ini memasuki era kebebasan yang apabila tidak ditata dengan benar dapat membahayakan bangsa dan negara.
Ia membandingkan dua era pemerintahan. Pada masa Orde Baru, Presiden Indonesia sangat berkuasa; pers dikekang bahkan dibreidel; dan pihak-pihak yang bersuara kritis ditangkap. Pada masa itu kepala daerah, gubernur dan bupati yang tidak sejalan dengan pemerintah pusat langsung diganti.
Sementara pada era reformasi ini, media sangat bebas bahkan menyampaikan informasi yang menurutnya tidak benar. Ia menyebut contoh media yang menulis Presiden mengeluh tidak pernah naik gaji. Padahal saat itu Presiden menyampaikan pemerintah mendahulukan program remunerasi kepada prajurit TNI/Polri sehingga presiden belum naik gaji selama 7 tahun. Para pengamat kemudian ikut menghujat dan menggalang aksi pengumpulan koin untuk Presiden.
Sejalan dengan tauladan yang diberikan Nabi Muhammad SAW, mantan Sekjen DPP Partai Demokrat ini meminta segenap pihak menjadikan reformasi atau zaman perubahan untuk membesarkan bangsa.
Marzuki Ali juga memohon doa dari pimpinan Pondok Pesantren Darul Falah KH Buldan Qomarudin, KH. Chairul Anam, para santri, serta jamaah yang dari datang dari wilayah Cianjur dan sekitarnya agar DPR RI serta dirinya selaku ketua dapat menjalankan amanah rakyat dengan baik.
[zul]