Berdasarkan laporan Reuters, emas spot melemah 1,8 persen ke level Dolar AS 4.083,94 per ons pada Kamis dini hari 15 Oktober 2026, yang merupakan posisi terendah sejak 7 Oktober.
Penurunan serupa juga terjadi pada kontrak berjangka emas pengiriman Desember yang melorot 1,7 persen menjadi Dolar AS 4.107,90 per ons.
Kenaikan inflasi ini dipicu oleh data Indeks Harga Konsumen (CPI) yang naik 0,6 persen pada September, lebih tinggi dari bulan sebelumnya yang berada di level 0,4 persen. Kondisi tersebut memperkuat spekulasi bahwa bank sentral AS (The Federal Reserve) akan kembali menaikkan suku bunga pada bulan ini, di mana peluang kenaikannya di pasar melonjak hingga 42 persen berdasarkan FedWatch Tool CME Group.
Kenaikan suku bunga membuat aset tanpa imbal hasil seperti emas menjadi kurang kompetitif. Di sisi lain, Indeks Dolar AS (DXY) menguat 0,5 persen serta imbal hasil obligasi US Treasury bertenor 10 tahun ikut melompat, sehingga semakin memperberat langkah logam mulia.
Selain emas, tekanan jual juga menghantam logam mulia lainnya. Perak spot merosot 6,6 persen menjadi 55,53 Dolar AS per ons. Platinum anjlok 3,5 persen ke posisi 1.605,37 Dolar AS per ons, dan Paladium melemah 2,8 persen menjadi 1.094,50 Dolar AS per ons.
Meskipun menghadapi tekanan berat dalam jangka pendek, prospek jangka panjang emas dinilai masih cukup solid. Analis Julius Baer, Carsten Menke, menyatakan bahwa permintaan dari pembelian bank sentral yang kuat serta kekhawatiran terhadap utang pemerintah AS yang terus bertambah masih akan menjadi faktor fundamental yang menopang pergerakan emas ke depan.
BERITA TERKAIT: