Kenaikan harga energi tersebut memicu kekhawatiran inflasi global dan memperkuat ekspektasi pasar bahwa bank sentral Amerika Serikat (The Fed) akan mempertahankan suku bunga tinggi dalam waktu lebih lama.
Tekanan tersebut membuat harga emas spot merosot 2,4 persen ke level 4.041,39 Dolar AS per ons pada penutupan Kamis 22 Oktober 2026, atau Jumat dini hari WIB, menurut laporan Reuters, menyentuh posisi terendah sejak awal Agustus.
Senasib dengan pasar spot, kontrak berjangka emas Amerika Serikat untuk pengiriman Desember juga ditutup melemah 2,2 persen menjadi 4.060,40 Dolar AS per ons.
Sentimen negatif dari sektor energi turut menyeret turun jajaran logam mulia lainnya secara signifikan.
Perak anjlok 5,4 persen ke level 54,84 Dolar AS per ons, di tengah langkah India yang menerbitkan izin impor sekitar 6.500 metrik ton perak guna menghadapi lonjakan permintaan domestik selama musim perayaan.
Platinum juga melorot 3,7 persen ke posisi 1.570,85 Dolar AS per ons, yang menjadi titik terendah sejak pertengahan Juli. Sedangkan paladium terkoreksi 2,7 persen menjadi 1.057,83 Dolar AS per ons, menyentuh level terendahnya sejak pertengahan tahun lalu.
Pasar kini bersiap mencermati arah kebijakan moneter melalui pertemuan The Fed pekan depan serta rilis data indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) AS untuk mendapatkan petunjuk lanjutan terkait trajectori suku bunga.
BERITA TERKAIT: